Sebanyak 24 dari 125 kelompok lolos seleksi business plan dan anggaran Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) Universitas Negeri Padang tahun 2010 ini. Setiap kelompok menerima anggaran sejumlah Rp24 dan 32 juta. Mereka mengajukan berbagai bentuk wirausaha, mulai dari makanan, souvernir, budidaya lobster, bimbingan belajar, jasa pencucian, hingga bisnis media online. PMW kali ini adalah PMW yang kedua kalinya setelah diterapkan pada 2009. Tahun lalu, PMW bisa dikatakan gagal diterapkan di UNP. Salah satu faktor kegagalan itu adalah bencana gempa 30 September.
Ada empat aspek yang menjadi penentu lolos atau tidaknya kelompok yang mengikuti PMW tahun ini. Pemasaran, manajemen keuangan, organisasi dan personalia, serta perencanaan produksi. Keempat aspek tersebut dinilai oleh Tim Reviewer sesuai dengan ketentuan dan bobot penilaian yang telah ditetapkan tim sebelumnya.
PMW ini merupakan salah satu program pemerintah untuk menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan mahasiswa di tanah air. Setiap perguruan tinggi negeri mendapat anggaran Rp1 milyar untuk menyukseskan PMW. Walaupun demikian, dana yang turun ke mahasiswa hanya Rp696 juta, selebihnya untuk biaya operasional PMW seperti persiapan, sosialisasi, pelatihan, pelaporan, dan evaluasi. "Bukan semuanya (Rp1 milyar-red) untuk usaha mahasiswa," terang Drs. Bahrul Amin, ST., M. Pd., selaku ketua pelaksana, Rabu (6/10).
PMW tahun ini diusahakan akan lebih berhasil dibanding tahun lalu. Berbagai pelatihan dan pemagangan diberikan kepada kelompok mahasiswa yang terpilih. Menurut Bahrul, pelatihan dan pemagangan akan lebih menambah wawasan peserta untuk mewujudkan wirausaha yang lebih baik dan sukses. Dalam pembekalan pemagangan peserta PMW di RSG FT, Rabu (6/10) lalu, Bahrul menekankan bagaimana pola pikir peserta untuk belajar kewirausahaan. "Mentang-mentang duit pemerintah dihabiskan saja dengan tidak jelas, itu tidak boleh," jelasnya.
Untuk menghindari adanya kesewenang-wenangan mahasiswa atas PMW atas sejumlah dana yang telah dikucurkan, Drs. Sudiro Sembiring, menekankan bahwa akan ada sanksi bagi mahasiswa yang kurang bertanggung jawab dengan usahanya. Salah satu sanksinya adalah pembatalan wisuda bagi ketua kelompok yang ngotot wisuda Maret dan Juni 2011. Sedangkan mengenai dana, Bahrul tidak segan-segan melibatkan pihak kepolisian untuk menyelesaikan sengketa pelarian dana yang tak tahu rimbanya. "Main-main dengan dana, seperti menghabiskan tanpa keterangan yang lengkap dan jelas, akan berurusan dengan polisi langsung," tegasnya. Adek
Komentar (0)