Meloka Initiative bersama Aku Juga Terdampak (AJT) menggelar webinar lingkungan dengan mengangkat tema "Perkembangan Liputan Media atas Isu Iklim di Indonesia" yang diadakan secara virtual melalui platform Zoom Meeting, Senin (20/9).
Ketua Dewan Pengawas (DPG) The Society Of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), Untung Widyanto menyebutkan bahwa tujuan diadakan webinar ini karena lemahnya posisi berita lingkungan pada media saat ini.
"Beberapa media Indonesia, menganggap berita lingkungan tidak seksi, tidak semenarik berita politik dan berita artis. Sehingga isu ini jarang dijadikan headline berita di media," ujarnya.
Sejalan dengan itu, Sapariah Saturi selaku Editor Mongabay menjelaskan, berita isu lingkungan masih memiliki tempat terbawah oleh media massa Indonesia.
"Berita lingkungan dan darurat iklim hanya diangkat menjadi headline berita saat terjadi bencana besar," sebutnya.
Sapariah juga memaparkan kendala yang sering ia temui ketika meliput berita lingkungan ialah respons pejabat dan pihak swasta yang tidak selalu positif.
"Kendala yang kerap kami temui di lapangan adalah pejabat dan pihak swasta yang menganggap liputan komunitas kami asing, sehingga kurang mendapatkan dukungan," paparnya.
Selain itu, Rosiy-XR sebagai pembicara ketiga dalam webinar ini mengatakan bahwa setiap orang memiliki hak untuk mengungkapkan kebenaran, meskipun ia orang terpandang atau masyarakat sipil biasa.
"Pemerintah dapat bekerja sama dengan media massa dan lembaga edukasi untuk mengomunikasikan kondisi krisis iklim kepada publik, agar segera mendorong perubahan," jelasnya.
Lebih lanjut, Rosiy menampilkan aksi iklim yang dilakukan beberapa komunitas. Seperti aksi yang dilakukan Extinction Rebellion pada 29 Agustus 2021 menggunakan media sepatu menuntut Indonesia merdeka dari krisis iklim.
Komentar (0)