Luh Murniasih selaku Guru di SMA Negeri 3 Malang berbagi pengalaman ketika mengikuti Program Guru Penggerak (PGP) Angkatan Satu yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdikbudristek) melalui platform Zoom Meeting dan streaming YouTube, Kamis (16/9).
Awalnya Murni tidak tertarik dengan PGP. Namun, ia melihat dua terminologi secara tidak langsung yang membuat dia tertarik mengikuti program tersebut.
"Setelah saya tonton Mas Menteri (Nadiem Makarim) di YouTube, saat itu saya ingat betul bahwa siapa guru yang ingin dan bisa menjadi penggerak di ekosistem pendidikan yang berinovasi. Kemudian saya terkesan dengan analogi dari Mas Dirjen (Iwan Syahril) tentang bagaimana guru sebagai seorang petani, tidak boleh menjadikan seorang murid yang seperti padi itu menjadi jagung," jelasnya.
Setelah mengikuti PGP Angkatan Satu, Murni memaparkan banyak kompetensi dan banyak perubahan terutama dalam diri sendiri, peserta didik, dan ekosistem pendidikan.
"Pertama, menghadirkan pembelajaran yang berpusat, berpihak, dan berdampak. Kedua, kompetensi untuk mengembangkan orang lain. Ketiga, kompetensi dalam pengembangan sekolah," paparnya.
Selain itu, Murni ingin mentransformasi pendidikan yang ada di Indonesia.
"Pertama, bagaimana menghadirkan pembelajaran yang membuat peserta didik lebih banyak berdialog, berkarya, mencoba, dan bertanya. Kedua, budaya merefleksikan diri bersama peserta didik. Ketiga, mengadakan studi tiru ke kelas, belajar praktik dari guru yang lain atau mengadakan kolaborasi belajar antar guru mata pelajaran," jelasnya.
Murni berpesan bahwa anugerah terindah bagi seorang guru adalah pendidik. Rekreasi yang paling indah seorang guru adalah mengajar. Jadi, pastikan kita memiliki bekal yang cukup untuk berekreasi bersama peserta didik menuju destinasi tujuan kita yaitu transformasi pendidikan indonesia dan profil pelajar Pancasila.
Komentar (0)