Narasi visual ialah bagaimana kita bisa mengomunikasikan sebuah pesan atau gagasan. Komik, gambar animasi dan tampilan pada museum merupakan salah satu contoh narasi visual. Itulah yang disampaikan oleh pemateri sesi kedua Hafiz Aziz Ahmad, Ph.D., selaku dosen dan Anggota Lab. Kajian Ilustrasi Buku Anak (KIBA) Fakultas Seni Rupa Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam Workshop Motion Graphic bertemakan "Edukasi Digital BerbasisStorytelling" yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), melalui platform Zoom Meeting, Kamis (2/9).
Dalam materinya, Hafiz menjelaskan bahwa tujuan utama dari narasi visual adalah agar pemirsa dapat melihat dan merasakan cerita sebagaimana pencerita membayangkan cerita tersebut.
"Tujuan dari narasi visual sendiri adalah bagaimana kita berusaha agar pemirsa dapat melihat dan merasakan apa yang ingin kita sampaikan," ujarnya.
Lalu, Hafiz juga mengatakan bahwa dasar utama dalam narasi visual adalah bagaimana cara agar dapat menarik pemirsa ke dalam cerita dan menahan mereka selama mungkin untuk menyaksikan cerita kita.
"Dasar utama dalam narasi visual adalah bagaimana menarik pemirsa ke dalam cerita dan menahan mereka selama mungkin dengan cara menyusun dan menampilkan cerita semenarik mungkin," katanya.
Ia juga menjelaskan, karena narasi visual sangat erat kaitannya dengan cerita maka nanti akan bersinggungan dengan sequence atau sesuatu yang ditampilkan secara berurutan.
"Kita perlu menyusun urutan informasi yang akan disampaikan agar informasi tersebut bisa sampai dengan tepat sekaligus bisa membangun hubungan emosi antara cerita dengan audiens," tuturnya.
Hafiz menambahkan, untuk menyusun suatu cerita kita butuh tiga unsur utama.
Pertama adalah cerita, yaitu hal yang ingin disampaikan.
"Pertama kita buat dulu ceritanya, pesan yang ingin kita sampaikan seperti apa," ujarnya.
Kedua, karakter. Karakter dibutuhkan sebagai suatu tokoh yang bertugas untuk membawa alur cerita.
"Kita perlu karakter yang bisa membantu kita dalam menyampaikan cerita kita, apalagi jika cerita yang disampaikan adalah cerita menampilkan sebuah interaksi," jelasnya.
Terakhir, jagat atau universe yaitu lokasi atau setting tempat cerita berlangsung.
"Cerita yang ingin kita susun itu jagatnya seperti apa, apakah settingnya serius, play full, atau sedikit ada unsur horornya," tuturnya.
Komentar (0)