Digital Storytelling ialah mengomunikasikan suatu pesan melalui seni bercerita dengan bahasa visual dengan memanfaatkan medium multimedia berbasis digital seperti gambar, audio, dan video. Itulah selentingan materi yang disampaikan Drs. Iman Sudjudi, M.Sn., selaku tenaga ahli Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) dalam Workshop Motion Graphic bertemakan "Edukasi Digital BerbasisStorytelling" yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), melalui platform Zoom Meeting, Kamis (2/9).
Dalam penjelasannya, Iman menuturkan bahwa saat ini masyarakat sudah terbiasa dengan sajian konten digital visual seperti di platform Instagram dan YouTube.
"Saat ini kita sudah terbiasa dengan sajian konten digital visual seperti yang sering kita lihat di platform Instagram dan YouTube," ujarnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa terdapat enam elemen penting dalam penuturan cerita dengan media digital (Digital Storytelling).
Pertama, sudut pandang. Hal ini mengenai poin utama dari cerita yang disampaikan dan bentuk perspektif dari penulis.
Kedua, membangun pertanyaan yang dramatik. Iman mengatakan bahwa dalam sebuah cerita harus memuat pokok masalah yang akan disampaikan dan pertanyaan dramatik yang nantinya akan dijawab di akhir cerita.
"Dalam seni bertutur tentu dibutuhkan adanya pertanyaan dramatik yang nantinya akan dijawab di akhir cerita," ujarnya.
Ketiga, konten emosional. Dalam hal ini, perlu memperhatikan karakteristik audiens dalam mengakses informasi, serta menyampaikan konten atau cerita dengan pendekatan secara pribadi dan kuat.
"Kita harus memperhatikan siapa audiens kita, bagaimana perilakunya, bagaimana kebiasaan mereka ketika mendapat informasi, media apa yang digunakan dalam mengakses informasi. Lalu kita dekati dan komunikasikan konten atau cerita kita dengan pendekatan secara personal dengan karakter yang kuat kepada audiens," jelasnya.
Keempat, yaitu audio atau suara. Setiap suara memiliki karakter yang berbeda-beda. Suara dapat membantu dalam mempersonalisasi cerita untuk membantu penonton dalam memahami konteks suatu cerita.
"Cerita dinarasikan dengan cara bertutur yang baik agar dapat sampai ke hati audiens sehingga mereka dapat memahami konteksnya," ujarnya
Komentar (0)