Pertentangan Pemilihan Umum (Pemilu) Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) menjadi polemik di kalangan mahasiswa hingga lembaganya. Protes pun dilayangkan lantaran menolak adanya calon tunggal pada pemilu kali ini.
Pertentangan pemilu
Pemilu Presiden Mahasiswa (Presma) dan Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma) (BEM KM Universitas Negeri Padang (UNP) yang telah berlansung pada Maret lalu menimbulkan sejumlah polemik. Pasalnya kemenangan pasangan calon nomor urut 01 Wahyudi Afrizon dan Muhammad Irfansshadiq yang berhasil memperoleh 7033 suara itu dinilai tidak layak lantaran melawan kotak kosong.
Pertentangan pemilu pada periode ini pun datang dari BEM Fakultas Ilmu Sosial (FIS) yang melayangkan pernyataan menolak adanya calon tunggal pada pemilu Presma dan Wapresma periode 2021/2022 yang diunggah melalui laman Instagram-nya, Minggu (28/2).
Adapun lima pernyataan sikap yang ditunjukkan BEM FIS. Pertama, menolak adanya calon tunggal pada pemilu Persma dan Wapresma BEM KM UNP karena dinilai cacat hukum. Kedua, menuntut Panitia Pemilihan Umum (PPU) dan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) untuk bersikap netral dan profesional yang berlandaskan azas kekeluargaan profesional dalam mengambil keputusan. Ketiga, mempertanyakan pemahaman PPU terhadap Undang-Undang Pemilu yang berlaku (pasal 50). Keempat, menuntut Majelis Permusyawatan Mahasiswa (MPM), PPU, dan Panwaslu untuk melakukan konsolidasi secara terbuka terhadap oganisasi mahasiswa selingkungan UNP. Kelima, tidak akan bekerja sama dengan MPM KM UNP dan BEM KM UNP, baik secara langsung maupun tidak langsung jika tidak mengindahkan hal tersebut.
Hal tersebut lebih lanjut diungkapkan Gubernur BEM FIS Aldo Wahyudi saat diwawancarai Ganto via WhatsApp. Ia menuturkan agar pemilu tersebut dijadwalkan ulang. "Terlihat jelas dari pasalnya (pasal 50), minimal dua paslon sedangkan kenyataannya tidak sesuai," ungkapnya, Senin (1/3).
Tanggapan terkait pemilu itupun juga senada diungkapkan oleh beberapa mahasiswa yang memiliki sikap pertentangan yang sama dengan BEM FIS. Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia TM 2019, Oscar Randa menilai pemilu yang telah berlansung tersebut menjadi hal yang baru baginya. Ia pun juga menyarankan memang selayaknya pemilu tersebut diulang. "Tidak etis saja memilih tapi calonnya tunggal," terangnya, Senin (19/4).
Komentar (0)