Aktivis dari Organisasi Wadah Pejuang Penegak Solusi Politik, Al Mukhollis Siagian menilai, adanya calon tunggal dalam pemilu BEM KM kali ini menujukkan kegagalan demokrasi yang ada di UNP, ucapnya, Rabu (21/4).
Adanya pemilu dengan satu pasang calon tunggal melawan kotak kosong tersebut, diakui Mahasiswa Jurusan Teknik Pertambangan TM 2019, Muhammad Rafif, membuatnya enggan melakukan e-voting dan memilih golput. "Tidak (memilih) karena lawannya kotak kosong," Jumat (23/4).
Kehadiran pemilu dengan calon tunggal tersebut menjadi hal yang membingungkan bagi RI (inisial) yang enggan menyebutkan namanya. Ia mengutarakan, bagaimana bisa hal tersebut dapat terjadi. "Apakah syarat yang ada terlalu berat atau ada hal lain yang membuat calon yang mendaftar dianggap tidak memenuhi syarat," paparnya lewat pesan WhatsApp, Kamis (22/4).
Namun lain halnya dengan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Sekolah TM 2018, Febby Syafitri yang menilai bahwa sah-sah saja pemilu dengan satu pasang calon tunggal. Menurutnya, mahasiswa dapat memilih alternatif yang ada. "Pilih paslon yang ada, atau mencoblos kotak kosong, atau tidak menggunakan hak suara," jelasnya, Selasa (20/4).
Menjawab pendapat yang mengemuka tersebut, Ketua PPU Afridho Afnanda saat ditemui Ganto secara lansung di sekretariat MPM mengatakan bahwa dalam Undang-Undang Pemilu tidak disebutkan untuk memilih pasangan calon harus dibutuhkan dua pasang calon. "Diksi dalam undang-undang itu memilih salah satu sehingga menimbulkan asumsi publik bahwa harus ada minimal dua paslon," jelasnya, Kamis (15/4).
Tingginya angka mahasiswa memilih golput pada periode ini, yakni sebanyak 78.11 persen dikarenakan situasi pandemi yang mengharuskan sosialisasi daring. Berbeda halnya di tahun sebelumnya, panitia mengadakan pertemuan lansung untuk sosialisasi tersebut, lanjut Ridho.
Dilansir dari ganto.co terkait penjelasan calon tunggal pada pemilu kali ini bahwa Serkretris PPU, Nada Salsabila mengungkapkan pada mulanya terdapat tiga bakal pasang calon yang akan mencalonkan diri pada pemilu tahun ini. Namun satu diantaranya memilih mengundurkan diri dan yang lainnya gugur karena tidak memenuhi syarat pada saat verifikasi akhir, Senin (1/3).
Dosen Jurusan Ilmu Sosial Politik, Irwan, M.Sc menilai pemilu dengan satu pasang calon tunggal menjadi hal yang menggelitik. Pasalnya ia menilai bahwa dalam pemilu tersebut setidaknya terdapat dua pasang calon, sehingga edukasi politik didapatkan oleh mahasiswa lewat memilih salah satu pasang calon terbaik, pungkasnya lewat sambungan telepon, Kamis (6/5).
Dengan tingginya angka golput pada pemilu BEM KM periode ini justru menjadi ironi saat situasi serba daring mestinya memudahkan mahasiswa untuk ikut serta dalam pemilu kali ini. "Besar sekali angkanya. Harusnya kalau pemilihan secara daring tingkat partisipasinya lebih tinggi,"tutup Irwan
Komentar (0)