Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing menurut Dr. Lliliana Muliastuti, M.Pd. memiliki tujuan utama diantaranya, mempromosikan bahasa dan budaya Indonesia dan menumbuhkan jejaring budaya yang kuat untuk membina saling pengertian antar negara peserta. Hal ini disampaikannya dalam kuliah umum Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) pada Era Revolusi Industri 4.0 melalui platform Zoom Meeting, Rabu (7/4).
Lliana yang merupakan Ketua Asosiasi Pengajar dan Pegiat BIPA Indonesia dalam power point menampilkan, Badan Bahasa sudah menerapkan pembelajaran BIPA sejak tajun 1990-an. Program yang dilakukan meliputi, pembelajaran BIPA, pengembangan materi ajar BIPA, dan penyusunan Uji Kemahiran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (UKBIPA).
"Hingga 2015 berdrilah PPSDK yang memiliki tugas pokok menangani masalah ke-BIPA-an," ujarnya.
Lanjut Lliana, pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) meningkatkan jumlah perguruan tinggi yang mengajarkan bahasa Indonesia di Thailand dan Vietnam. Pembelajaran BIPA di Thailand pada semester 1 tahun 2020 berjumlah 796 mahasiswa dari sejumlah universitas penyelenggara.
Selanjutnya di Asia Tenggara jumlah lembaga penyelenggara BIPA yang telah diidentifikasi oleh Badan Bahasa di negara Filipina berjumlah 24 lembaga, Vietnam 4 lembaga, Indonesia 67 lembaga, Laos 2 lembaga, Myanmar 3 lembaga, Timor Leste 29 lembaga, Malaysia 6 lembaga, Kamboja 11 lembaga, Singapura 12 lembaga, dan Thailand 43 lembaga. Status lembaga tersebut diantaranya, lembaga pendidikan formal seperti sekolah atau universitas; lembaga pendidikan nonformal seperti Kedutaan Besar RI atau Konsulat Jenderal RI dan lembaga kursus bahasa.
Komentar (0)