Maraknya disinformasi ditengah pandemi Covid-19, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerja sama dengan Google News Initiative (GNI) mengadakan webinar dengan tema "Melawan Infodemi Covid-19." Acara dihelat melalui platform Zoom Meeting serta live streaming Youtube AJI Indonesia, Kamis (11/2).
Ahmad Arif, selaku koalisi warga untuk lapor Covid-19, memaparkan infodemik merupakan ancaman tebesar selama pandemi Covid-19 mengenai vaksin Covid dan kepercayaan publik. Arif menjelaskan infodemik ini sendiri terbagi menjadi tiga, yaitu misinformasi, disinformasi dan malinformasi. Lebih jelas, Arif mengutarakan misinformasi adalah informasi-informasi yang awalnya tidak diniatkan untuk menimbulkan kekacauan informasi, tetapi berkembang menjadi informasi yang mengacaukan.
"Misinformasi 88% bersumber dari sosial media, ini semua disebakan karena pengunaan sosial media yang sangat besar di Indonesia. Serta misinformasi yang selalu disebarkan oleh media mainstream Indonesia," jelasnya.
Lebih lanjut, Jurnalis Kompas ini mengatakan bahwa bahaya disinformasi bisa membuat kehilangan kepercaya publik mengenai pentingnya vaksin Covid-19. Ia mengatakan disinformasi cenderung membesar ketika terjadi kekosongan informasi terpecaya di publik.
"Jadi publik yang rendah literasinya atau yang tidak terpapar dengan informasi yang benar diharapkan untuk mengisi pengetahuan publik yang kurang, disinformasi akan lebih cenderung membesar disekitar," ujarnya .
Sementara itu, malinformasi ini memang sengaja dibuat oleh kelompok atau orang tertentu dengan tujuan kriminal, phising dan pencurian informasi.
"Hal-hal mengenai infodemik terjadi secara global, hal ini menjadi fenomenal yang barangkali terbesar selama ini karena sebaran dari Covid yang sangat luas. Sehingga membesar dengan seiringnya kasusnya dibanyak Negara. Hal ini membuat Indonesia masuk dalam lima besar sebaran infodemik Covid-19 didunia," tuturnya.
Berdasarkan data yang ditemukannya, infodemik sudah memakan korban 800 orang didunia karena misinformasi yang keliru yang ditangkap oleh publik. Hal ini dimulai dengan meminum disinfektan yang sebelumnya bertujuan mengatasi Covid.
"Dengan banyak bukti misinformasi bisa mematikan, di Indonesia ada beberapa kasus seperti di Kalimatan Selatan orang yang salah minum disinfektan, hal ini apakah disebakan misinformasi atau salah minum," ungkapnya.
Arif juga menyebutkan misinformasi memiliki bermacam-macam bentuk, mulai stigma penjemputan jenazah pasien Covid yang sangat marak di Indonesia. Selanjutnya Arif berharap kepada publik, menjadi garda terdepan dalam menghadapi wabah infodemik yang menyebar seperti virus, agar memutus rantai infodemik di Indonesia.
Komentar (0)