Penulis Buku "Filosofi Negara Menurut Tan Malaka" Hasan Nasbi menjadi salah satu narasumber dalam webinar Dialog Sejarah Historia.ID yang bertemakan "Indonesia dalam Mimpi Tan Malaka". Webinar ini diselenggarakan melalui kanal YouTube Historia.ID, Jumat (16/10).
Tan Malaka merupakan sosok tokoh yang sangat kontroversial dan menjadi legenda. Dengan nama asli Ibrahim Datuk Tan Malaka, sosok ini menjadi istimewa karena riwayat hidupnya.
Hasan Nasbi mengungkapkan sebagian besar tulisan Tan Malaka dibuat dalam keadaan sendiri. Hal itu dilakukan Tan Malaka untuk menyembunyikan identitas. Semasa hidup pun, Tan Malaka tidak mempunyai partner diskusi yang memadai.
Hasan mengakui gagasan Tan Malaka sangat kuat, militan, radikal dan menginspirasi anak-anak muda kala itu. Ia menceritakan bagaimana kisah penculikan Bung Karno ke Rengasdengklok oleh anak-anak muda.
"Anak-anak muda yang menculik Bung Karno ke Rengasdengklok adalah pembaca buku Tan Malaka," tutur Hasan.
Menurut Hasan, Tan Malaka mempunyai gagasan yang berlian disaat ia kesepian. Tapi gagasan itu tidak bisa mendialektikakan pikiran-pikirannya sendiri.
Hasan Nasbi juga mengakui bahwa Tan Malaka adalah pemikir besar. Sebagai bukti, Hasan menunjukkan buku Madilog yang merupakan karya terbesar Tan Malaka. Sampai saat ini buku tersebut masih sulit untuk dipelajari. Menurutnya, level berpikir Tan Malaka jauh diatas rata-rata orang Indonesia dan penguasaan ilmunya yang luas.
"Dengan pemikiran besarnya, dia layak dianugerahkan sebagai pahlawan nasional," ujar Hasan
Tan Malaka, dalam penjelasan Hasan, menentang banyak partai politik di dalam suatu negara. Tan Malaka menginginkan adanya organisasi tunggal sebagai penyelenggara negara.
Hasan juga menyebut bahwa Tan Malaka tidak setuju kalau Indonesia ke depan berkaca ke dunia barat. Tan Malaka tidak menyukai Prinsip Trias Political, karena membuat negara jadi tidak stabil akibat pertentangan.
"Negara yang di idam-idamkan Tan Malaka adalah negara Soviet," kata Hasan.
Tan Malaka sangat terpesona dengan disiplin organisasi.
"Pemikiran seperti ini terbawa sampai masa Tan Malaka dewasa, oleh sebab itu Tan Malaka tidak suka dengan kisruh Trias Political," tutup Hasan.
Dalam webinar ini Historia.ID juga menghadirkan Sejarawan dan Penulis Biografi Tan Malaka, Harry A. Poeze. Sejarawan ini menghabiskan setengah hidupnya untuk melakukan penelitian tentang Tan Malaka yang memakan waktu selama lebih 40 tahun. Sehingga terbitlah 5 jilid buku tentang Tan Malaka.
Komentar (0)