Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Abdi Pendidikan Payakumbuh mengadakan Webinar Pendidikan Sejarah dengan tema "Penulisan Sejarah" via Zoom Meeting dan live streaming YouTube, Senin (12/10).
Dedi Arsa, M. Hum. selaku Dosen Sejarah Pemikiran Islam Institut Agama Islam Negeri Bukittinggi sekaligus pemateri dalam webinar ini.
Dedi memulai dengan membagi karya tulisan sejarah menjadi tiga jenis yaitu fiksi, populer, dan ilmiah.
Dedi menyebutkan bahwa ada satu dari sekian banyak keuntungan dalam menulis, yaitu memperpanjang umur.
Lanjutnya, menulis sebuah buku sejarah dapat dilakukan dengan lima tahapan. Pertama, menemukan masalah. Masalah yang akan diangkat bisa ditemukan melalui berita, obrolan via group Whatsapp, dan membaca karya orang lain.
"Bila ingin menjadi novelis, bacalah seratus novel. Bila ingin menjadi penulis sejarah, bacalah seratus karya orang lain," ujarnya.
Kedua, mengumpulkan bahan dan data. Bahan dan data yang diinginkan bisa dikumpulkan dalam bentuk data primer yaitu bahan tertulis, wawancara, dan penggalian untuk para arkeolog.
Ketiga, verifikasi data dengan memastikan keaslian sebuah data.
Keempat, memilih dan memilah data yang akan digunakan dalam proses penulisan.
Kelima, menulis.
Tambahnya, ketika menulis sebuah buku ataupun karya tulis sejarah tidak hanya dibutuhkan sebuah wawasan. Seni dalam penulisan juga dibutuhkan agar ketika menginterpretasikan hal yang akan ditulis dapat tersampaikan dengan baik kepada pembaca. Seni dalam penulisan ini bisa dipengaruhi oleh hal diluar diri seorang penulis.
"Karya sejarah adalah produk perorangan dan tidak terlepas dari pengaruh luar seorang sejarawan seperti agama, pandangan politik, budaya, dan lain-lain. Bila seorang atheis, nasrani, dan islam diberikan tema serta data sejarah yang sama, berkemungkinan besar menghasilkan pandangan yang berbeda," ucapnya.
Dedi juga mengatakan, waktu dalam menulis sebuah karya sejarah juga akan berpengaruh pada penulisan sebuah karya tulis sejarah.
"Hal yang dibutuhkan seorang dalam menulis karya sejarah adalah etika. Etika yang baik dari seorang penulis sejarah akan menghindarkan ia dari tindakan plagiat," tutupnya.
Komentar (0)