Kementrian Koordinator Kemaritiman mengadakan Webinar Nasional Seri 2Pokja Land Subsidance dengan mengangkat tema "Kesiapan Infrastruktur Monitoring dan Pemetaan Risiko Bencana Land Subsidence (Amblesan Tanah) di Indonesia" via Zoom, dan live streaming Facebook serta YouTube, Kamis (8/10).
Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, Ir. Andriani, M.T. menjelaskan tentang penyelidikan geologi untuk kajian faktor penyebab Land Subsidence. "Ada dua faktor utama yang menyebabkan terjadinya penurunan muka tanah," ujarnya.
Dua faktor utama yang dimaksud Andriani adalah faktor alami dan faktor aktivitas manusia.
Faktor alami meliputi penurunan lapisan yang belum terkonsolidasi dengan baik dan pengaruh tektonik daerah setempat, sedangkan faktor aktivitas manusia meliputi pembebanan bangunan infrastruktur serta ekstrasi air tanah yang berlebihan dan rapat.
Andriani juga melakukan kajian geologi guna penyelidikan faktor penyebab penurunan muka tanah ini. Kajian geologi yang dilakukan adalah kajian Geologi Regional dan Kajian Geologi Rinci Pantura, Jawa Tengah.
Kajian Geologi Regional meliputi Kajian Sebaran Tanah Lunak di Indonesia dan telah menerbitkan Atlas Sebaran Tanah Lunak di Indonesia, serta kajian geologi terpadu untuk kesesuaian lahan pengembangan perkotaan yang bertujuan untuk mengetahui keluasan wilayah untuk dikembangkan sebagai perkotaan berdasarkan aspek morfologi, ketersediaan air tanah, bahaya geologi (gempa bumi, tsunami, gerakan tanah, dan gunung api).
Lalu, Kajian Geologi Rinci Pantura, Jawa Tengah meliputi wilayah Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang-Demak. Kajian ini masih dalam proses.
"Penyebab penurunan tanah di wilayah Pantura, Jawa Tengah saat ini masih dikaji dari beberapa aspek, baik geologi, geologi teknik, geofisika maupun air tanahnya," tuturnya.
Komentar (0)