Cerobong asap pada pengolahan industri yang ada belum semuanya ramah lingkungan.
Hal ini disampaikan oleh delegasi dari Institut Pertanian Bogor, Muhammad Fatahudin dan Ajwar Anas saat mengawali peresentasinya pada acara Pekan Ilmiah dan Kompetisi Geografi (PIKOM-G) 2019 di Aula Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang, Sabtu (23/11).
Fatahuddin selaku pembicara pertama menyatakan bahwa pentingnya kebersihan udara bagi kehidupan membuat ia dan rekannya, Anas, terinspirasi membuat terobosan baru pada cerobong asap yang telah ada, yaitu cerobong asap bersekat yang diberi nama DT-19
Inovasi cerobong asap bersekat pada pengolahan batu kapur ini terdiri dari 5 fungsi yang dapat dikembangkan. Kelima bagian tersebut terdiri dari inlet, sekat, outlet, saluran dan bak sedimentasi.
Terkait inlet, sekat, dan outlet, kata Fatahuddin, telah diperkirakan ketinggian dan kemiringannya yang tepat sehingga saluran yang telah dirancangpun dapat berfungsi secara optimal.
Selanjutnya, Anas selaku pembicara kedua menyampaikan bahwa pembeda cerobong asap ini dengan lainnya ialah dengan adanya bak sedimentasi. Untuk cerobong terdahulu, pada sekat akan ada bahan yang tersaring berupa suspense padatan. Padatan disaring untuk menjadi kompos dan bahan logamnya akan terpisah.
Kompos yang telah terpisah, lanjutnya, akan dimanfaatkan sebagai media tanam lili paris pada bak sedimentasi. Lili paris ini memiliki banyak manfaat, salah satunya mengurangi polutan di udara. "Jadi semua elemennya bermanfaat," pungkasnya.
Komentar (0)