Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat, Uslaini menduga penyebab kematian massal ikan di hulu Sungai Batang Maek, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota dipicu limbah tambang.
Uslaini menyampaikan bahwa mengambil air hanya dipermukaan sebagai sampel penelitian, tentu tidak dapat mendeteksi karena pencemaran terdapat di kedalaman sungai. Ia berharap supaya dilakukan evaluasi terhadap aktivitas tambang yang memiliki izin atau pun tidak.
Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan mengatakan bahwa mereka telah mengambil sampel penelitian, namun hasil labor menunjukkan kematian ikan di Batang Maek tidak dari dampak pertambangan PT. Berkat.
Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Bidang Mineral Batubara, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Sumatera Barat, John Edwar bahwa memang PT. Berkat sudah mendapat izin pembangunan, dan sudah diberikan pembinaan agar setiap hari melakukan pengecekan air, meskipun belum mendapat izin lingkungan. "Dugaan kematian ikan akibat limbah PT. Berkat harus ditindaklanjuti," jelas John di Gedung Rektorat Baru Universitas Negeri Padang lantai 4, Sabtu (16/11)
Prof. Ismet, salah seorang narasumber mengatakan bahwa peristiwa ini harus dipelajari lagi. Menurut penuturannya bahwa kematian ikan bisa disebabkan beberapa hal. Seperti perubahan Oksigen, ledakan Hg, serangan parasit, temperatur, dan toksis (unsur-unsur yang mencemari air). "Berkemungkinan ini karena toksis, karena ikan yang ditemukan di insangnya terdapat lumpur," ungkapnya pada diskusi ilmiah yang bertajuk Kematian Massal Ikan Hulu Batang Maek Kabupaten Limapuluh Kota.
Penyebab lain dipaparkan oleh Dosen Perikanan Bung Hatta, Dr. Kemal bahwa pH sungai juga mempengaruhi kematian ikan, terlebih karena banyaknya tumbuhan yang hidup di sungai tersebut. "pH sungai dalam kondisi asam akan membentuk beberapa endapan," terangnya lebih lanjut.
Keraguan tersebut juga diungkapkan salah seorang perwakilan masyarakat Tanjung Balik, Dedi bahwa mereka membutuhkan informasi yang jelas dan perlu diluruskan. "Tahun 2016 juga pernah terjadi kejadian serupa, tapi tidak begitu menghebohkan karena semua ikan yang pusing ditangkap oleh masyarakat dan penyebab lain karena adanya tanaman yang disebut akar tubuh, apabila dialiri hujan dan masuk ke sungai akan menjadi racun," jelas Dedi.
Sebagai penutup Pemandu diskusi, Osronitapun mengatakan bahwa belum bisa memutuskan hasil diskusi sebelum ada hasil dari labor
Komentar (0)