Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Patriotik Universitas Batanghari (Unbari) Jambi adakan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) dengan tema "Mobile Jurnalisme" selama enam hari, yakni 13-18 November 2019.
PJTLN yang diikuti oleh 23 LPM se-Indonesia ini terdiri dari beberapa rangkaian acara. Pada hari pertama, diadakan pembukaan PJTLN yang dihadiri oleh Staff Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Jambi, Asraf, selaku perwakilan Gubernur Jambi; Rektor Unbari, Fachrudin Razi; Ketua Aliansi Jurnalistik (AJI) Jambi, M. Raymond EPU, Kepala Kepolisian Daerah Jambi yang diwakili oleh Hery Manurung; Dekan Fakulltas Hukum Unbari, Muslih; serta Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kota Jambi.
Setelah diadakan pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan seminar tentang Tantangan Pers Mahasiswa di Era Teknlogi Industri 4.0 oleh Siti Masnidar, salah satu anggota AJI Jambi di Aula Drs. H. Abdurrahman Sayoeti Unbari Jambi, Rabu (13/11).
"Seorang jurnalis itu harus punya mental yang kuat. Mental yang kuat itu muncul ketika apa yang kita sampaikan benar dan sesuai dengan kode etik jurnalistik," ujar Siti.
Hal itu disampaikannya saat menjawab pertanyaan salah seorang peserta PJTLN di sesi tanya jawab mengenai tekanan yang dialami pers mahasiswa saat menerbitkan berita kritikan terhadap birokrasi kampus.
Tidak hanya pers mahasiswa, kata Siti, media mainstream pun juga mendapat tekanan dari pihak yang mendanai. "Itu tergantung seni kita mengungkapkan kebenaran yang kita punya," sebutnya.
Selanjutnya, muncul pertanyaan lain mengenai kebebasan pers yang berkaitan dengan penyalahgunaan kekuasaan media. Terkait hal itu, Siti menjelaskan bahwa sejak Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers diresmikan, kemerdekaan pers dijamin sepenuhnya sebagai hak asasi warga negara.
Sejak itu, lanjutnya, banyak perusahaan media yang bermunculan, untuk media cetak sekitar 4 ribu dan yang online sekitar 43 ribu media.
"Ada yang baru sehari membuat media, kemudian langsung menjadi Pemimpin Redaksi yang bahkan orang itu tidak tahu cara membedakan mana yang subjek, predikat, dan objek, tidak pernah membuat berita sebelumnya. Hal ini menjadi salah satu bahan diskusi oleh Dewan Pers," terangnya.
Oleh karena itu, kata Siti, perlu adanya kompetensi perusahaan pers oleh Dewan Pers. "Jadi media-media yang ada itu harus terverifikasi oleh Dewan Pers," jelasnya.
Tantangan lain pers di media online, lanjutnya, ialah judul. Kekuatan media online ada pada judulnya. Untuk mendapatkan judul yang bagus, berita yang ditulis juga harus bagus isinya.
"Dalam memformat sebuah berita yang bisa viral, judul dan isinya harus menarik serta sesuai kebutuhan pembaca," ujar Siti.
Komentar (0)