Memperingati Hari Sumpah Pemuda bukan hanya sekedar status, namun refleksi diri. Hal ini disampaikan oleh Abdi Azzahra, S.Pd., saat menjadi pemateri dalam acara Gebyar Kampus Merah dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda di Taman Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang, Senin (28/10).
Refleksi berarti mengenang dan juga meresapi apa yang telah terjadi dahulu, kata Abdi, lalu dibandingkan dengan kondisi saat ini. Dulu para pemuda berperang mengusir penjajah dan Sumpah Pemuda menjadi gerbang dalam memperjuangkan hak bangsa.
"Apa yang telah diperjuangkan oleh pemuda sebelumnya, menjadi hal yang diwariskan ke pemuda masa kini, yang mesti tetap diperjuangkan dengan cara berbeda, yakni mempertahankan," ujar Abdi.
Abdi menyatakan bahwa Indonesia belum benar-benar merdeka dari penjajahan. Ia juga menyebut bahwa kapitalisme merupakan salah satu bentuk penjajahan. Melalui globalisasi, negara-negara berkembang berupaya mencontoh negara maju, misalnya membangun infrastruktur, sama halnya dengan yang dilakukan Indonesia.
Sementara untuk pembangunan itu, lanjut Abdi, memerlukan dana yang besar sehingga menimbulkan ketergantungan ekonomi. Ia juga menjelaskan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi saat ini ialah masalah mental. Tidak semua individu mampu menerima hal-hal atau perubahan yang tengah diupayakan pemerintah sehingga menjadi masalah yang serius.
Abdi juga menceritakan bahwa di masa lalu, faktor produksi atau orang yang mempunyai modal yang menguasai segalanya. Saat ini tantangan masyarakat makin berat karena orang yang mempunyai modal dan penguasa berteman baik dan merugikan kaum minoritas.
Selanjutnya Abdi juga mengungkapkan bahwa saat ini diperlukan modal sosial yang terdiri atas tiga komponen. Pertama, habitus, yaitu kepribadian seseorang yang sangat dipengaruhi oleh arena. Kedua, arena, yaitu tempat atau lingkungan sosial. Dalam hal ini dapat disebut dengan organisasi yang dipilih pemuda, yang dapat membentuk karakternya.
Lalu yang ketiga ialah modal, kata Abdi, yang cakupannya berupa individu, masyarakat maupun tatanan Negara yang terkait dengan jaringan atau relasi. "Makanya jangan sampai memilih arena yang membawa pengaruh negatif agar modalnya juga tidak negatif," ujarnya.
Komentar (0)