Selama dua pekan terakhir, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Riau, Jambi, Kalimantan, dan Sumbar. Kabut asap menyebabkan kualitas udara semakin memburuk dan juga berdampak bagi kesehatan masyarakat.
Menyikapi hal tersebut, Ketua Pusat Kajian Ilmu Lingkungan Universitas Negeri Padang Dr. Indang Dewata, M.Si., menyarankan seluruh masyarakat yang terkena dampak primer maupun sekunder dari Karhutla untuk mengunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. "Perlu kesadaran masyarakat, di luar rumah usahakan untuk selalu menggunakan masker," jelasnya, Minggu (22/9).
Hal tersebut agar salah satu indikator yang menentukan udara tercemar yakni Particulate Matter 10 (pm10) yang terkandung dalam kabut asap tidak mudah terhirup oleh hidung karena bantuan masker. Sehingga gangguan pernapasan yang diakibatkan oleh partikel tersebut juga dapat berkuarang.
Leih lanjut, Indang menjelaskan bahwa yang menjadi persoalan dalam tercemarnya udara akibat Karhutla bukanlah ketebalan asap yang hanya dapat dilihat oleh mesyarakat saja, melainkan persoalan akumulasi dari jumlah partileh berbahaya yang dihirup oleh masyarakat.
"Misalnya saat ini terhirup dan menempel di paru-paru sekitar 5 miligram, kemudian besok terhirup dan menpel lagi hingga beberapa hari. Jadi walaupun berada di daerah kuning pun jika terpapar terus menerus maka akan sama bahayanya dengan yang berada di daerah hitam atau tingkat wilayah bahaya," paparnya.
Untuk sumber pencemaran, kata Indang, terbagi ke dalam beberapa ukuran. Mulai dari ukuran satu jam, ukuran 24 jam, hingga ukuran setahun. Jadi, walaupun konsenterasi pencemaran udara rendah tapi terpapar dalam jangka setahun secara terus menerus tetap dapat menyebabkan berbagai penyakit. "Sama halnya dengan mereka yang terpapar hanya sekali dalam waktu satu jam tapi konsetrasi pencemara udara sangat tinggi, mereka juga akan sakit," tutup Indang.
Komentar (0)