Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda Riau, Jambi, Kalimantan, dan Sumatera Barat (Sumbar) berdampak pada munculnya kabut asap yang menyelimuti beberapa wilayah di Indonesia. Salah satunya menyelimuti hampir seluruh wilayah di Sumbar.
Dilansir darirri.co.id, berdasarkan data yang dihimpun melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun GAW Bukit Koto Tabang di Kecamatan Palupuah Kabupaten Agam, tercatat ada sejumlah kota dan kabupaten di Sumbar, mulai diselimuti kabut asap.
Di antaranya Kota Padang, Kabupaten Limapuluh Kota, Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kabupaten Pesisir Selatan.
Ketua Program Studi S2 Ilmu Lingkungan Universitas Negeri Padang, Dr. Indang Dewata, M.Si., menjelaskan bahwa Kota Padang merupakan salah satu wilayah penerima dampak sekunder. Di mana daerah tersebut bukanlah penyebab melainkan penerima akibat dari Karhutla. "Biasanya siklus dari pencemaran udara ini akan tetap panjang," ungkapnya, Minggu (22/9).
Indang mengatakan terdapat beberapa indikator dalam menentukan suatu wilayah udara tercemar atau tidak. Di antaranya, Particulate Matter 10 (pm10) yakni partikel halus di udara yang ukurannya 10 mikron, hidrokarbon, NO2, dan SO2.
Jika parameter indikator tersebut tinggi dapat berakibat untuk kesehatan manusia. Mulai dari Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), dan penyakit jantung. "Jika partikel tersebut terus menerus masuk ke dalam paru-paru bisa juga menyebabkan kanker," tambahnya.
Selain berdampak pada kesehatan, jelas Indang, kabut asap juga dapat menggangu ekosistem makhluk hidup lainnya seperti tumbuhan dan binatang. Dikarenakan siklus udara yang terganggu saat ini dapat mengakibatkan penurunan hasil panen petani. "Karena proses fotosintesis yang masuk dari matahari tidak sampai diterima oleh tumbuh-tumbuhan," jelasnya.
Indang menambahkan bahwa bagunan yang terus menerus terkena partikel dari kabut asap perlahan dapat merusak bagunan tersebut. Mulai dari perkaratan hingga rusaknya bagunan tersebut. "Hal ini tentu dapat menurunkan nilai ekonomi bagunan tersebut," katanya.
Lebih lanjut, Indang menjelaskan dampak fatal dari kabut asap yakni dapat menyebabkan terjadi perubahan iklim.
Komentar (0)