Persepsi Indonesia tentang tes TOEFL sudah salah kaprah. "TOEFL selalu diagung-agungkan, apa-apa TOEFL, melamar kerjapun perlu TOEFL," tutur Rusdi Noor Rosa saat Pelatihan TOEFL bagi mahasiswa Bidikmisi Fakultas Bahasa dan Seni TM 2016 di Room B Gedung Rektorat Lt. 1 Universitas Negeri Padang, Selasa (10/9).
Untuk menamatkan dan melanjutkan studi, lanjutnya, barulah diperlukan TOEFL. Vocabulary atau kosa kata yang banyak sangat diperlukan dalam setiap tes bahasa Inggris, termasuk tes TOEFL.
TOEFL bukanlah penentu kemampuan bahasa Inggris seseorang, kata Rusdi, tetapi hanya sebagai prediksi. Orang yang memiliki TOEFL tinggi belum tentu hebat bahasa Inggrisnya begitu juga orang yang hebat bahasa Inggris, belum tentu tinggi nilai TOEFL-nya. "Itulah yang namanya performansi dan kompetensi. Keduanya berbeda," ujar Rusdi.
Lebih lanjut Rusdi menjelaskan bahwa TOEFL merupakan kepanjangan dari Test of English as Foreign Language. TOEFL merupakan tes bahasa Inggris yang berstandar internasional. Di Indonesia sendiri, bahasa Inggris masih menjadi bahasa asing, sedangkan di Malaysia sudah menjadi bahasa kedua.
Rusdi berpesan kepada mahasiswa yang hadir agar berusaha menguasai bahasa asing. Ia menambahkan bahwa kemampuan dan kecerdasan di bidang lain di luar bidang studi yang digeluti sangat diperlukan, salah satunya kemampuan bahasa asing. "Jangan sampai ketika kalian tamat kuliah di sini, kalian masih berstatus monolingual," ucapnya.
Komentar (0)