Bermodalkan tekad memberdayagunakan bahan yang tidak terpakai, beberapa mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) menciptakan sebuah produk minuman dari kulit buah kakao yang selalu dibuang atau dijadikan pupuk kompos. Kulit buah tersebut mengandung antioksidan yang baik bagi tubuh. Hal ini diungkapkan oleh Mahasiswa Pendidikan Kimia TM 2016, Febri Yuliani selaku Ketua Program Kreativitas Mahasiswa-Kewirausahaan (PKM-K) ketika ditemui Ganto di Taman Fakultas Ilmu Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNP, Sabtu (22/6).
Febri mengatakan bahwa PKM-K ini sudah dirintis sejak awal Maret 2019 dan saat ini sudah mencapai 75% tahap finishing. "Produk yang kami beri nama Litao Kobal ini sudah mulai dipromosikan ke teman dekat dan tetangga-tetangga di rumah. Untuk tahap selanjutnya, masih ada beberapa hal yang harus ditambahkan pada produk minuman ini, salah satunya tata cara penyeduhan minuman yang belum terdapat di kemasan produk," tutur Febri.
Selain itu, Febri menjelaskan bahwa harga produk minuman Litao Kobal sangat terjangkau. Litao Kobal yang berbentuk kemasan 25 gram dijual seharga Rp 3.000,00; Litao Kobal siap minum yang dikemas dalam gelas minuman dijual seharga Rp 4.000,00; sedangkan Litao Kobal kemasan 250 gram dijual seharga Rp 28.000,00.
Untuk proses pembuatannya, kata Febri, pertama-tama kulit buah kakao itu diblender terlebih dahulu, baru kemudian dikeringkan. Ia menambahkan bahwa ada beberapa bahan tambahan yang dicampurkan pada bubuk kulit kakao ini, di antaranya gula, susu, creamer, vanile, dan jahe. "Suapaya rasanya unik, kami menambahkan jahe," ungkapnya.
Febri juga menuturkan bahwa ada beberapa kendala yang dialami timnya selama tahap pengerjaan PKM-K ini. Salah satunya, kesulitan dalam mengumpulkan kulit buah kakao karena buah tersebut tidak masak setiap hari. Selain itu, kulit buah kakao tersebut juga harus langsung diolah sesaat setelah buah itu dipetik dan dibelah. "Jika menunggu hari esok, kulit buah kakao itu akan membusuk dan akan berdampak pada kehigenisan produk. Hal itu pernah kami alami dulu saat meminta teman membawa kulit buah kakao dari kampungnya dan kami baru mengolahnya keesokan harinya di Padang," tutur Febri.
Kendala lain yang dialami, kata Febri, yaitu sulitnya mencari kemasan yang sesuai dengan standar juri. Ia juga menambahkan bahwa kemasan yang yang digunakan saat ini merupakan kemasan yang dipesan dari luar wilayah Sumatera Barat. "Berhubung juga waktu itu bulan Ramadhan, jadi banyak toko yang tidak buka," ujarnya.
Lebih lanjut, Febri mengungkapkan bahwa PKM-K yang diketuainya berangotakan empat orang mahasiswa UNP dari jurusan yang berbeda-beda. Ia berharap agar mereka dapat lulus Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional.
Komentar (0)