Penyandang cacat merupakan bagian dari masyarakat yang juga memiliki kedudukan, hak dan kewajiban yang sama di negara ini. Walaupun hidup dalam keterbatasan, mereka juga memiliki potensi untuk dikembangkan. Dengan segala keterbatasan, mereka bisa menjadi manusia yang produktif, menghasilkan karya-karya yang mungkin belum bisa diselesaikan oleh manusia yang memiliki fisik sempurna. Itulah yang dikatakan Gina, Mahasiswi Pendidikan Luar Biasa TM 2010 ketika mengelilingi bazaar yang menjual dan memamerkan hasil kerajinan tangan para penyanadang cacat.
Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) PLB peringati Hari Internasional Penyandang cacat (Hipenca), Sabtu (3/12). Hipenca yang memang jatuh pada tanggal 3 Desember diperingati diseluruh dunia termasuk kota Padang. HMJ-PLB yang bekerja sama dengan Persatuan Penyandang Cacat Indonesia (PPCI) untuk pertama kalinya mengadakan acara peringatan Hipenca bergabung dengan 33 Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Kota Padang. "Tahun-tahun sebelumnya PPCI maupun SLB-SLB memperingati Hipenca sendiri-sendiri saja" terang Safar ketua pelaksana dari HMJ-PLB. Acara yang dilaksanakan di SLB-YPPLB di Jati Ujung Gurun itu mengadakan Bazar dari karya-karya yang dibuat siswa SLB serta perlombaan seni yang juga diikuti siswa SLB.
Kurang bukan berarti tak ada, karya adalah bukti nyata merupakan tema yang diusung pada acara tersebut. Rahmateti ketua Kelompok Kerja Sekolah (KKS) SLB menjelaskan tujuan acara ini untuk mengingatkan kembali bahwa Undang-Undang No.4 Tahun 1997 menyatakan bahwa 1 dari 100 karyawan perusahaan adalah penyandang cacat, namun kenyataannya sekarang belum semua melaksakan peraturan itu. "Dengan adanya acara ini mudah-mudahan bisa membuat mata orang-orang banyak lebih melek lagi" ujarnya, Sabtu (3/12). Lebih jelas Rahma mengatakan bahwa anak-anak penyandang cacat itu juga berhak mendapatkan tempat dimasyarakat, pasalnya mereka juga bisa berkarya dan produktif.
Menurut Rahmateti saat ini penyandang cacat masih termarjinalkan karena tidak diindahkannya undang-undang tentang penyandang cacat tersebut. Meskipun ada perusahaan yang merekrut karyawannya yang berasal dari penyandang cacat, tapi masih sangat sedikit sekali dibanding dengan jumlah mereka yang cukup banyak. Rahmateti berharap kepedulian terhadap penyandang lebih ditingkatkan lagi, karena tidak sedikit dari mereka yang berprestasi. Terselenggaranya acara ini juga tidak terlepas dari kepedulian salah seorang donatur dari alumni PLB yang menyumbangkan uang sebesar 10 juta untuk acara tersebut. "Semoga semakin banyak orang-orang yang peduli seperti alumni PLB itu," ucapnya.
Komentar (0)