Kepunahan satwa liar di Indonesia disebabkan oleh terfragmentasinya hutan di seluruh wilayah di Indonesia. Jumlah hutan di setiap pulau di Indonesia sudah jauh berkurang seiring berkembangnya jumlah populasi manusia. Hal ini disampaikan oleh Ahli Konservasi dan Ekologi. Prof. Dr. Ir. Ani Mardiastuti, M. Sc., dalam materinya yang berjudulDefaunation in Indonesiapada acara Seminar Nasional Bio-Exo di Teater Tertutup Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang (UNP), Sabtu (26/1).
Ani menjelaskan bahwa semakin besar tubuh satwa liar, maka semakin besar dan cepat pula tingkat kepunahannya, itulah yang menjadi kekhawatiran pada Pulau Sumatera yang memiliki satwa liar bertubuh besar, seperti harimau, gajah, orang utan, badak, tapir dan beruang madu.
Prediksi kepunahan ini akan menjadi kepunahan keenam setelah adanya lima kepunahan sebelumnya. Akibat kepunahan tersebut, fungsi ekologi akan terganggu karena ekosistem alam yang tidak seimbang. Banyaknya tempat penangkaran hewan yang dijadikan sebagai tempat pariwisata juga menjadi faktor kepunahan sehingga adaptasi satwa dengan habitat aslinya semakin lama semakin berkurang seiring dengan sulitnya satwa tersebut untuk berkembang biak.
Lebih lanjut Ani mengatakan bahwa salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah kepunahan yaituRewelding.Reweldingmerupakan upaya melepasliarkan satwa dari tempat penangkaran setelah satwa tersebut siap untuk bertahan hidup di habitat aslinya. "Jika belum siap bertahan hidup, satwa tersebut akan mati karena tidak mampu mencari makanannya sendiri dan persaingan antarsesama satwa," ujarnya.
Jumlah satwa liar Sumatera saat ini sangat jauh berkurang bahkan ada yang sulit dihitung karena terfragmentasinya hutan. Jumlah harimau Sumatera saat ini yang terhitung berjumlah 300 ekor, orang utan kurang dari 500 ekor, dan badak hanya berkisar 80 ekor saja. "Satwa liar lain tidak bisa diperkirakan jumlahnya dan prediksi akan terjadinya kepunahan sangat kuat," ucap Ani
Komentar (0)