Memasuki suatu organisasi kampus semisal Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) bukanlah semata-mata mencari eksistensi di kalangan mahasiswa. Hal ini disampaikan oleh Nofriadi Kurnia Putra selaku pemateri pada acara Diskusi Lantai yang diselenggarakan BEM Universitas Negeri Padang (UNP) di Sekretariat BEM UNP, Kamis (24/1). Ia menjelaskan bahwa jika eksistensi yang diharapkan, maka itu merupakan suatu kesalahan.
Dalam perannya sebagai eksekutif, kata Nofriadi, BEM bertugas menjalankan kebijakan-kebijakan yang harus diberlakukan. Ia mengungkapkan bahwa BEM merupakan martabat mahasiswa dan solusi menghadapi degradasi saat ini. "Hal ini berhubungan dengan fungsi mahasiswa sebagai penyambung lidah masyarakat," ujarnya.
Nofriadi juga mengungkapkan bahwa sebagai organisasi tertinggi kampus, BEM bertugas sebagai sarana advokasi mahasiswa. Eksistensi dan hal lainnya merupakan nilai tambah di balik kesungguhan dalam menjalaninya. Ia menambahkan bahwa mahasiswa harus memiliki tujuan dan dasar yang kuat ketika memasuki suatu organisasi. "Jadi, tidak sekedar mencari ketenaran," ujarnya.
Selain itu, Nofriadi juga menjelaskan bahwa anggapan tentang orang-orang yang tergabung dalam BEM merupakan penganguran yang tidak memiliki kesibukan harus dihapuskan. Mahasiswa yang terhimpun ke dalam BEM merupakan orang-orang terpilih setelah melalui beberapa seleksi. "Kompetisi antarsesama mahasiswa pun terasa, tidak bisa dikatakan mudah," jelasnya.
Lebih lanjut Nofriadi mengungkapkan bahwa pada tahun 2020 BEM ditakutkan akan hilang begitu saja. Hal ini dikarenakan merajalelanya gerakan mahasiswa yang bersifat individualis. Ia menambahkan bahwa mahasiswa yang cenderung apatis harus lebih diperhatikan.
Komentar (0)