Rencana tata ruang dengan mitigasi perubahan iklim sangat berhubungan erat. Hal ini disampaikan oleh Harne Julianti Tou sekaligus Dosen Perencanaan Wilayah Kota Universitas Bung Hatta pada seminar yang diselenggarakan oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat di Taman Budaya Kota Padang, Kamis (29/11).
Acara ini merupakan rangkaian acara panggung rakyat yang diadakan 28-29 November. Di mana pada Kamis (29/11) diadakannya seminar dengan tema "Pengelolaan sumber daya alam dan mitigasi perubahan iklim di Sumatera Barat.
Harne menjelaskan bahwa rencana umum tata ruang adalah rencana resmi pemerintah yang berisi kebijakan utama mencapai wujud masa depan yang diinginkan dalam aspek fisik yang meliputi elemen fisik pembentuk ruang yang terkait lingkungan suatu wilayah. "Rencana umum tata ruang ini berfokus pada perencanaan fisik, berjangka panjang, komprehensif, dan bersifat umum," jelasnya.
Dalam jangka panjang, berarti rencana umum yang bervisi ke depan dengan mengidentifikasi kebutuhan masa depan. Selain itu, rencana umum tata ruang juga harus komprehensif yaitu merencanakan semua elemen fisik yang penting dan memiliki dasar kebijakan, meningkatkan rencana fisik dengan tujuan dan kebijakan ekonomi dan sosial.
Selanjutnya, Harne menjelaskan mitigasi perubahan iklim merupakan usaha pengendalian untuk mengurangi resiko akibat perubahan iklim melalui kegiatan yang dapat menurunkan emisi atau meningkatkan penyerapan gas rumah kaca dari berbagai sumber emisi.
Maka dari itu, kata Herne terdapat keterkaitan antara rencana tata ruang dengan mitigasi perubahan iklim. Perubahan iklim disebabkan oleh alam dan aktivitas manusia yang bisa menyebabkan terjadinya bencana seperti banjir, tanah longsor, maupun kebakaran hutan. Sehingga membutuhkan mitigasi perubahan iklim untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Kegiatan yang bisa dilakukan seperti pertanian, penggunaan lahan gambut, dan sebagainya.
Staklim Padang Pariaman, Sugeng juga menjelaskan bahwa pengelolaan iklim oleh manusia sebagai sumber daya yang bersinergi dengan pengelolaan lingkungan akan merubah potensi bencana akibat iklim menjadi sumber daya yang lebih bermanfaat bagi manusia.
Uslaini, Direktur Walhi mengatakan bahwa target penurunan emisi dilakukan pada sektor-sektor yang menjadi target penurunan emisi nasional, seperti kehutanan, energi, pertanian, sampah, dan industri. Selain itu, sektor kehutanan menjadi sektor tertinnggi dalam upaya menurunkan emisi yang akan dicapai melalui REDD+ dan Non-REDD+
Komentar (0)