Sebagai pemuda, mahasiswa harus keluar dari zona nyaman dan menjadi generasi penerus bangsa yang mumpuni. Hal ini dikatakan oleh Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sumbar periode 2014-2017, Delfika Yuliandra, S. H., M. Kn., selaku pemateri pada acara seminar nasional yang diadakan oleh Unit Kegiatan-Wadah Pengkajian dan Pengembangan Sosial Politik (UK-WP2SOSPOL) Universitas Negeri Padang (UNP) di Aula Prof. Kamaludin Fakultas Ekonomi (FE), Selasa (9/10).
Delfika mengatakan bahwa mahasiswa tidak boleh ikut bungkam dan larut dalam kenyamanan dan fasilitas yang tersedia. Sebagai agent of change, mahasiswa adalah sumber pergerakan dan kemajuan bangsa ke depannya. "Jangan pikir diri anda aktivis jika hanya memikirkan diri sendiri," ujarnya.
Peneliti Founding Father House (FFH), Dian Permata selaku pemateri juga mengatakan bahwa di era reformasi ini, mahasiswa dituntut untuk lebih menyuarakan aspirasi rakyat. Tidak hanya sibuk dengan kegiatan organisasi dan perkuliahan, mahasiswa juga harus melakukan pergerakan berupa demonstrasi dan melek terhadap politik. "Bukan mahasiswa namanya jika tidak pernah melakukan demo," ungkapnya.
Dian menambahkan bahwa mahasiswa saat ini terlena dengan politik uang yang tanpa disadari telah menggerogoti pikirannya. Pergerakan mahasiswa seakan-akan dikotak-kotakkan dengan kesibukannya, baik itu di perkuliahan maupun di organisasi kampus. "Saat ini banyak mahasiswa yang antipati terhadap politik dan tidak mau menggunakan hak politik," lanjutnya.
Mahasiswa sebagai kontrol sosial harus melek politik dan membuka cakrawala tentang isu-isu politik yang berkembang. Di tengah kebungkaman media terhadap aspirasi rakyat, kata Dian, mahasiswa harus tetap menyuarakan aspirasi tersebut. Fungsi dan peran mahasiswa harus dikembalikan seperti semula. "Kita harus menyampaikan kepada masyarakat bahwa kita peduli terhadap mereka," ujar Dian.
Sejarawan sekaligus pembina UK-WP2SOSPOL UNP, Abdul Salam, S. Ag., M. Hum., yang juga merupakan pemateri pada acara tersebut mengatakan bahwa dahulu Bung Karno gagal dalam menjadikan politik sebagai panglima negara dan Bung Hatta juga gagal dalam menjadikan ekonomi sebagai panglima negara. Sudah saatnya pemuda di era reformasi kini untuk melakukan perubahan. "Mahasiswa sebagai pemuda harus inspiratif, konstributif, dan memungkinkan untuk melakukan pergerakan dan perubahan," ujarnya.
Komentar (0)