Mahakarya Pictures bekerja sama dengan Unit Kegiatan Film dan Fotografi Universitas Negeri Padang (UNP) mengadakan diskusi dan pemutaran trailer film "Liam dan Laila" bersama dengan sang sutradara, Arief Malinmudo di Teater Mursal Esten Fakultas Bahasa dan Seni UNP, Selasa (25/9).
Dalam paparannya, Arief menjelaskan film ini bukan mencoba menunjukkan budaya Minangkabau lebih baik dari budaya lain atau pun sebaliknya. Ia mengatakan, film ini berbicara tentang kebebasan memilih kebenaran. Menurutnya, saat ini kebebasan memilih kebenaran dipagari atau justru digiring oleh kepentingan lain. "Nah, itu yang ingin saya titipkan lewat karakter Liam seorang pemuda yang tertarik mencari kebenaran," ungkapnya.
Arief menambahkan bahwa film Liam dan Laila ini bercerita tentang dua orang yang berbeda negara, budaya dan agama. Liam adalah seorang pria asal Perancis yang ingin merebut hati seorang wanita asal Minangkabau, Laila. "Namun rintangan yang harus Liam hadapi untuk meminang Laila tak semudah yang dibayangkan," tuturnya.
Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa dari film ini ia belajar memperlihatkan seorang perempuan di Minangkabau secara social culturenya bisa mengontrol. "Perempuan itu lembut, halus, namun bisa mengendalikan semuanya," ujarnya. Hal ini sesuai dengan pepatah minang yaitu Samuik dipijak indak mati, Alu tataruang patah tigo, yang artinya jika perempuan minang digambarkan ketika ia menginjak semut, semut tersebut tidak mati, namun ketika ia tersandung kayu, kayu tersebut bisa patah. "Dan itu merupakan bagian dari ketegasan prinsip seorang perempuan Minang," ujarnya.
Komentar (0)