Suasana hening. Sekali-kali terdengar suara teriakan. Terlihat sekitar 1500 orang rombongan massal pria menggunakan peci, sorban, helm dan pita biru yang disematkan di pakaian mereka. Pemimpin rombongan itu berteriak "Kafir! Kafir! Polisi minggir!" "Bubarkan Ahmadiyah! Bubarkan Ahmadiyah." Itulah cuplikan video amatir yang disaksikan 35 peserta Pelatihan Manajemen Website se-Sumatera dengan tema "Bingkai Sumatera Lewat Dunia Maya", Sabtu-Jumat (15-21/10).
Video amatir yang terdiri tiga bagian ini menerangkan bagaimana proses awal penyerangan dan pembunuhan yang dilakukan oleh Gerakan Islam Militan Cikeusik terhadap kaum Ahmadiyah Cikeusik di perumahan Ahmadiyah. "Adapun guna saya memperlihatkan video ini adalah untuk menunjukkan fungsi dari new media dalam jurnalisme," ujar Andreas Harsono, pendiri yayasan Pantau selaku pemateri, Minggu (16/10).
Selesai pemutaran video, Andreas menjelaskan penggunaan video sebagai media baru bagi jurnalisme untuk memberikan informasi kepada masyarakat luas, sehingga masyarakat bisa mendapatkan informasi yang sebenarnya. Dalam paper yang dibuat oleh Andreas dengan judul "Indonesia’s Religious Violence: The Reluctance of Reporters to Tell the Story", kebanyakan media massa memberikan informasi yang tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. Contohnya dalam kasus penyerangan Ahmadiyah yang terlihat dalam video tersebut. Setelah kabar mengenai kasus penyerangan Ahmadiyah sampai di kota-kota besar di Jawa, hingga media cetak menerbitkannya, media menggunakan kata-kata bentrokan dalam menjelaskan apa yang terjadi. "Media televisi hanya menampilkan bagian awal penyerangan, tapi tidak memperlihatkan proses pembunuhan secara keseluruhan," ungkapnya di hadapan 35 perwakilan pers mahasiswa.
Agar tidak terjadi kesalahan dalam peliputan berita, Andreas menyarankan kepada para peserta untuk tidak terfokus hanya dengan catatan wawancara, tetapi juga dengan merekam proses kejadian peristiwa, baik berupa video ataupun audio. "Sehingga tidak terjadi kesalahan dalam penyampaian berita," tambahnya.
Peserta pada pelatihan yang diadakan Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Teknokra Universitas Lampung antara lain: Ganto (Uiversitas Negeri Padang), Suara Kampus (IAIN Imam Bonjol Padang), Suara Kreatif Mahasiswa (Politeknik Negeri Lampung), LPM Ukhuwah (IAIN Raden Fatah Palembang), LPM (Universitas Muhammadiyah Palembang), Bahana (Universitas Negeri Riau), Aklamasi (Universitas Islam Riau), Detak (Universitas Syiah Kuala Aceh), Kreatif (Universitas Negeri Medan), Kronika (STAIN Metro Lampung), Trotoar (Universitas Negeri Jambi), Gelora Sriwijaya (Universitas Sriwijaya), Patriotik (Universitas Batanghari Jambi), UKPM Teknokra (Universitas lampung), Media Sriwijaya (Fakultas Hukum UNSRI), Sukma (Politeknik Lampung), Digit@l (IBI Darmajaya), Genta (Universitas Andalas) dan Teropong (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara). Jefri*next12
Komentar (0)