Sebelum terjadinya Reformasi, kepemimpinan bangsa Indonesia selalu didominasi oleh kalangan pejabat atau partai tertentu dan pemilihan berlangsung secara tidak transparan. Alhasil, banyak pemimpin bangsa yang terpilih tidak berdasarkan kehendak rakyat.
Hal tersebut disampaikan oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatra Barat (Sumbar), Zigo Ronal, dalam acara Seminar Kepemudaan yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Kabupaten dan Kota Solok di Aula Pascasarjana Universitas Negeri Padang, Minggu (10/12).
Lebih lanjut, Zigo menjelaskan bahwa Reformasi merupakan tonggak penggerak bagi pemuda agar dapat tampil sebagai pemimpin. Oleh karena itu, pemuda seharusnya dapat konsisten dengan sumpah yang pernah diucapkan pada masa itu, yakni bersatu dalam tumpah darah dan bahasa demi kepentingan bangsa.
"Meski waktu terus berjalan, namun zaman tetap menuntut janji-janji para pemuda terdahulu. Kita perlu konsisten akan janji itu," ungkap anggota DPRD termuda ini.
Selain itu, Zigo mengatakan bahwa pemuda menjadi penentu masa depan suatu negara. Untuk menghadapi hal tersebut, kata Zigo, diperlukan persiapan yang matang bagi pemuda guna menghadapi Indonesa emas di tahun 2045.
"Jika pemuda terlena dengan perancanaan yang tidak jelas tanpa melakukan action, maka kehancuran yang akan bangsa kita dapatkan," tegasnya.
Tahun ini, kata Zigo, DPRD Sumbar telah menetapkan peraturan daerah mengenai kepemudaan. Hal ini dikarenakan banyaknya pemerintah daerah yang tidak mau memberikan bantuan kepada organisasi pemuda untuk mengadakan kegiatan.
"Kami di DPRD selalu menyuarakan, berdosalah pada kita yang memegang kekuasaan tidak mempersiapkan generasi penerus untuk kebaikan bangsa kedepannya," jelasnya.
Zigo menghimbau kepada pemuda agar tidak terlena dengan sejarah masa lalu, karena sejatinya perjuanagn bangsa Indonesia yang sesungguhnya dimulai setelah kemerdekaan diraih.
Komentar (0)