UNILA, Bandar Lampung. Sabtu (15/10), Pelatihan Manajemen Website se-Sumatera yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Teknokra Universitas Lampung (UNILA) dimulai. Pelatihan yang dilakukan dari tanggal 15-20 Oktober ini diikuti oleh LPM yang ada di seluruh Sumatera.
LPM yang hadir antara lain Ganto dari Universitas Negeri Padang, Suara Kampus dari IAIN Imam Bonjol Padang, Suara Kreatif Mahasiswa Politeknik Negeri Lampung, LPM Ukhuwah IAIN Raden Fatah Palembang, LPM Universitas Muhammadiyah Palembang, Bahana dari Universitas Negeri Riau, Aklamasi dari Universitas Islam Riau, Detak dari Universitas Syiah Kuala Aceh, Kreatif dari Universitas Negeri Medan, Kronika dari STAIN Metro Lampung, Trotoar dari Universitas Negeri Jambi, Gelora Sriwijaya dari Universitas Sriwijaya (UNSRI) , Patriotik dari Universitas Batanghari Jambi, LPM Teknokra UNILA, dan Media Sriwijaya dari Fakultas Hukum UNSRI.
Acara pelatihan ini dimulai dengan sebuah workshop yang bertema " Ngeblog biar gak Go-Blog". Workshop yang mendatangkan Andreas Harsono (Yayasan Pantau) dan Budi Putra (Konsultan Viki.com) sebagai pemateri, selain diikuti oleh perwakilan LPM se-Sumatera, juga diikuti oleh siswa SMA yang ada di Bandar Lampung dan Mahasiswa UNILA. Workshop ini berlangsung di kafe Pondok Kelapa yang berada di kawasan UNILA.
Dalam materinya, Andreas Harsono membahas mengenai bagaimana jurnalisme bekerja dengan internet. Menurut Andreas, semenjak ada media online, jurnalisme berubah. Dulu jurnalisme dikatakan sebagai "gatekeeper" atau penjaga pagar. Media menjadi penyedia informasi yang benar, sehingga tidak terjadinya perpecahan informasi yang didapat masyarakat. Tetapi Yahoo, Google, Wikipedia, Facebook dan Youtube sebagai media internet menghilangkan keberadaan pagar tersebut. Berbagai macam media internet menyediakan suatu berita atau informasi yang sama tetapi tidak selalu sama dalam isi. Hal inilah yang membuat masyarakat banyak terpecah.
Selain itu, internet sebagai media baru dalam jurnalisme juga memberikan dampak pada media cetak, khususnya dibidang ketenagakerjaan seperti wartawan. Untuk contoh, New York Times mengurangi 1 persen karyawan, mencari pinjaman US$250 juta dengan bunga 14 persen.
Lebih lanjut, melihat pengaruh dari internet tesebut, Andreas menjelaskan mengenai buku yang diterbitkan oleh Bill Kovach dan Tom Rossenstiel dengan judul "Blur: How to Know What’s True in the Age of Information Overload". Dimana buku ini mengatakan bahwa jurnalisme masih relevan namun peran dari "gatekeeper" jadi lebih kecil. Dalam buku ini juga disebutkan delapan peran wartawan dalam dunia internet, yaitu : Authenticator, Sense maker, Investigator, Witness Bearer, Empowerer, Smart Aggregator, Forum Organizer and Role Model. "Jadi dengan adanya wartawan yang menjalankan kedelapan peran tersebut, maka masyarakat bisa membedakan mana informasi yang benar, tetapi kebenarannya tidak dirubah," ujar Andreas.
Komentar (0)