"Hoaks belum dikenal oleh nenek moyang orang Minangkabau. Di masa dahulunya, yang ada kabar burung, berita bagalau, berita bohong, atau duto (dusta)," ujar Drs. M. Natsir, Dt. Sampono Batuah pada acara Forum Group Discuission dengan tema "Anti Narkoba dan Anti Hoaks" yang diadakan Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Sumatera Barat di Aula Kominfo, Senin (27/11).
Natsir mengatakan di Minangkabau ada empat hal yang menyebarkan berita bohong tersebut di antaranya dibao ribuik, dibao angin, dibao pikek, dan dibao langau. Dibao ribuik maksudnya suatu kabar berita yang cepat tersiarnya kepada masyarakat akan tetapi tidak jelas ujung-pangkal beritanya. Sedangkan dibao angin adalah suatu berita yang tersiar dengan perlahan-lahan tetapi sumber beritanya tidak diketahui. Dibao pikek yaitu berita bohong yang tujuannya untuk pejabat. Terakhir dibao langau yaitu berita bohong yang disebarkan oleh seseorang dan setelah itu dia seolah tidak mengetahui apa yang telah terjadi.
Di akhir pembicaraan, ia mengatakan keempat penyebar berita bohong tersebut merupakan kiasan dari nenek moyang orang Minangkabau. Namun, masih relefan untuk dipelajari oleh generasi saat ini dan seterusnya. "Setiap berita, kejadian yang disampaikan lewat teknologi canggih sekali pun harus tetap diteliti dan dipelajari agar tidak tertipu," ujarnya.
Komentar (0)