Prof. Dr. Hermanu Joebagio Guru besar Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) hadir sebagai pemateri pada acara Seminar Nasional Sejarah di Ruang Serba Guna (RSG) Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Padang (UNP), Sabtu (4/11).
Hermanu menyampaikan bahwa sejaran yang mutakhir ditentukan pada cara guru menyampaikan sejarah tersebut. "Sejarah sifatnya menghasilkan anak-anak menjadi sangat kritis dalam kehidupan," ungkapnya.
Belajar sejarah merupakan proses eksplorasi permasalahan dengan narasi baru yang berpusat pada situasi agama dan akhlak. Proses mengaitkan suatu deretan peristiwa itu merupakan proses berpikir kritis. Sejarah bukan sekedar proses transmisi nilai, tetapi pengetahuan yang landasannya masa depan. "Dalam pembelajaran sejarah bagi siswa tidak hanya dituntut untuk menghafal saja, tetapi juga daya kritis siswa," tambah Hermanu.
Di era yang modren ini, kata Hermanu, anak millennial sering dipermainkan oleh teknologi. Banyak sumber-sumber materi belajar yang berbeda-beda untuk satu pembahasan yang sama, maka di sini peran guru untuk mengeksplorasi dan mengajarkan kepada siswa mana yang benar.
Dengan semakin berkembangnya teknologi, lanjut Hermanu, banyak muncul masyarakat modren yang sibuk dengan aktivitas sendiri. Dampak dari hal ini dimensi kebudayaan dan moral akan hilang, sehingga menimbulkan rasa individualisme dan ego yang tinggi. "Sebagai guru harus mendorong atau mengarahkan anak untuk membangun kemanusiaan," tambahnya.
Lebih lanjut, Hermanu menyampaikan ada empat prinsip dalam humanitarian. Pertama, humanitas artinya saya tidak mau memikirkan orang lain. Kedua, imparsial tumbuhnya rasa emphati terhadap mereka yang tidak berdaya, ini merupakan satu hal yang penting. Ketiga, tidak berpihak pada siapa pun. Keempat, independen.
Komentar (0)