Riset merupakan sesuatu yang harus dilakukan seorang jurnalis dalam setiap penggarapan sebuah tulisan jurnalistik. Hal itu disampaikan Sekretaris Jendral Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Arfi Bambani Amri dalam Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional yang diadakan lembaga pers mahasiswa Teknokra Universitas Lampung di Guest House Pramuka, Bandar Lampung, Sabtu, (28/10).
Afri menjelaskan, dalam melakukan riset seorang jurnalis dapat mencari data dari berbagai media. Di antaranya manusia, produk-produk budaya, dan media digital. Dia menuturkan bahwa perkembangan zaman yang begitu canggih dapat menjadi hal yang bisa mempermudah seorang jurnalis untuk mencari data.
Pada zaman dulu, kata Arif, untuk melakukan riset biasanya jurnalis menggunakan cara manual, yaitu mencari data di perpustakaan. "Jurnalisme data itu sangat menarik, dulu kesulitan oleh hal teknis dan pengolahannya. Berbeda dengan sekarang, teknisnya mudah, pengolahannya pun bisa pakai komputer," ujarnya.
Lebih lanjut, Arif mengatakan bahwa seorang jurnalis dapat memanfaatkan sosial media untuk memperoleh data awal seseorang. Misalnya facebook, menurut Afri, seseorang dapat dengan mudah mengenali orang lain, seperti karakter, di mana rumahnya, siapa kekasihnya dan berbagai hal lain yang kebanyakan disuguhkan oleh si pemilik sosial media di akunnya.
Di akhir pembicaraan, Afri, mengatakan bahwa seorang jurnalis harus dapat menceritakan data-data yang diperoleh mengunakan bahasa yang baik dan komunikatif. "Data kuantitatif tidak ada gunanya, jika tidak dapat diceritakan dengan baik," ungkapnya.
Komentar (0)