Menulis perlu kesungguhan. Karenanya, menulis juga perlu latihan. Banyak orang ingin menjadi penulis, tapi tidak mau melatih kemampuannya dalam menuangkan pikiran atau gagasannya dalam bentuk tulisan.
"Rajin-rajinlah berlatih," ujar Tere Liye, novelis kenamaan Indonesia, saat menjadi pemateri Talkshow Kepenulisan Nasional di Universitas Islam Negeri Sumatra Utara, Sabtu (14/10).
Penulis dengan nama asli Darwis ini mengatakan bahwa, untuk menjadi penulis, seseorang harus memiliki kesungguhan hati.
"Berhentilah untuk bilang aku sibuk tidak punya waktu, dan gigihlah untuk bilang saya harus menulis apa pun yang terjadi," jelasnya.
Menurut Tere Liye, masing-masing individu memiliki kemampuan untuk menulis minimal seribu kata per hari.
"Jadi, disiplin menulis satu huruf sehari tidak pa-pa. Pasti selesai juga itu novel kalau memang niat dari hati menulis novel. Menjadi penulis itu bikin nangis dan juga berdarah-darah," ujarnya.
Dia mengungkapkan bahwa seorang penulis harus menjiwai apa yang ditulisnya. Tere Liye mencontohkan, pada saat menulis novel Hafalan Shalat Delisa, dia sampai mengeluarkan air mata.
Begitu juga ketika menulis novel Tentang Kamu. Saking menghayatinya dalam menulis novel itu, Tere Liye sampai terbawa dalam aktivitas harian. Tangannya pernah terluka terkena kayu ketika mengambil sesuatu.
Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa seorang penulis juga tidak boleh malas. Penulis yang baik itu tugasnya adalah menulis. "Jadi, terus, terus, dan teruslah menulis," kata pria kelahiran Lahat, 21 Mei 1979 ini.
Tere Liye merupakan penulis dari puluhan judul buku. Beberapa karyanya pun juga sudah difilmkan, seperti Hafalan Shalat Delisa dan Semoga Bunda Disayang Allah.
Pada awal September lalu, melalui akun Facebook, Tere Liye mengabarkan bahwa dia menghentikan penerbitan buku-bukunya. Hal ini dikarenakan dia kecewa dengan besarnya pajak yang harus dibayar seorang penulis.
Komentar (0)