Ide atau gagasan selalu ada di mana dan kapan saja. Tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak menuliskannya. Tetapi, seorang penulis harus bisa mengolah ide yang didapat melalui riset.
Hal tersebut diungkapkan Tere Liye, novelis kenamaan Indonesia, saat menjadi pemateri Talkshow Kepenulisan Nasional di Universitas Islam Negeri Sumatra Utara, Sabtu (14/10).
"Apa pun yang ada di sekitar kita bisa dijadikan ide tulisan, tapi Tere Liye tidak bisa seperti itu. Tere Liye harus melakukan riset," tegasnya.
Tere Liye mengatakan bahwa penulis yang baik selalu mengawali proses kreatifnya lewat riset. Ada tiga macam riset yang bisa dilakukan penulis dalam melahirkan karya-karyanya.
Tiga macam riset tersebut yaitu membaca buku, melakukan perjalanan, dan bertemu dengan orang-orang bijak.
"Bertemu orang-orang bijak yang dimaksud di sini bukan ahli, inspirator, atau pejabat, melainkan bisa siapa saja, yang tahu tentang apa yang kita cari untuk mendukung cerita kita. Dengan demikian, di kepala kita akan muncul beribu-ribu ide inspiratif," ujarnya.
Selain itu, dalam melakukan riset, ada dua opsi cara yang dapat dilakukan, yaitu observasi lapangan dan membaca buku. Tere Liye mencontohkan ketika menulis novel Rindu, dia pun melakukan riset dengan membaca buku, seperti Kapal Pesiar Tahun 1940.
Novel Rindu bercerita tentang orang yang ingin naik haji pada 1940. Untuk menulis novel, dia merasa perlu mencari tahu bentuk kapal pada tahun itu.
"Butuh waktu lama untuk benar-benar memahami itu. Maka, riset itu adalah menyakitkan ketika kamu tidak punya data," tutupnya.
Komentar (0)