Masyarakat Indonesia cenderung menyukai siaran bersifat hiburan dibandingkan dengan siaran mendidik. Hal tersebut berdampak terhadap minimnya kebutuhan masyarakat Indonesia untuk memperoleh berita.
"Orang Indonesia kurang suka nonton berita. Mereka lebih suka nonton sinetron atau gosip yang sifatnya menghibur," ujar Putra Nababan, salah seorang presenter televisi swasta di Indonesia, saat menjadi pembicara di Seminar Nasional Jurnalitik yang diselenggarakan Unit Kegiatan Komunikasi dan Penyiaran Kampus Universitas Negeri Padang (UNP) di Aula Fakultas Ilmu Keolahragaan UNP, Minggu (24/9).
Lebih lanjut, Putra menjelaskan, dibandingkan dengan Jepang, Indonesia masih tertinggal jauh mengenai kebutuhan masyarakat akan berita. Di Jepang, kata Putra, satu juta eksemplar hanya untuk satu merek koran dapat dicetak setiap paginya. "Itu baru koran yang beredar di pagi saja, belum lagi koran untuk sore yang mencapai 700-800 eksemplar," terangnya.
Jika dibandingkan dengan Indonesia yang memiliki jumlah penduduk sekitar 250 juta, koran yang dicetak tiap harinya hanya berkisar tiga setengah hingga empat juta eksemplar untuk seluruh koran yang ada di Indonesia. Sementara, untuk stasiun televisi yang hanya menyiarkan acara berita, kata Putra, rating yang diperoleh tidak mencapai 10% dari 100% penontonnya. Kondisi ini berbeda dengan stasiun televisi umum.
"Waktu saya di TV berita, tidak terlalu banyak orang mengenal saya. Berbeda ketika saya sudah pindah ke TV umum, seperti Seputar Indonesia, banyak orang yang mengenal saya," jelas Putra.
Putra berharap agar Komisi Penyiaran Indonesia dapat mengubah siaran televisi yang ada di Indonesia lebih mendidik dan mengajak orang untuk lebih berpikir bukan sekedar memberi informasi. "Siaran televisi bukan hanya menghibur dan memberi informasi, melainkan juga mendidik dan mengajarkan," ujarnya.
Komentar (0)