"Saya mencoba untuk evaluasi succes story dari berbagai macam orang, ternyata yang dilihat adalah sikap. Jika kita bisa menjadi teman yang baik, memiliki sikap menghargai orang lain, serta menggaggap mereka sebagai keluarga yang bisa berpegangan erat untuk mencapai mimpi, maka orang itu akan banyak yang datang dan bekerja sama dengan kita."
Demikianlah kutipan yang terlontar dari Andri Rizki Putra, Pendiri Yayasan Pemimpin Anak Bangsa saat menjadi pemateri pada seminar kepemudaan yang diadakan oleh Surat Kabar Kampus (SKK) Ganto UNP, Minggu (13/11) kemarin.
Dalam materinya, Rizki menyampaikan bahwa hal terpenting dalam meraih kesuksesan ialah sikap, bukan kepintaraan yang menetukan seberapa tingginya seseorang. "Memiliki Indeks Prestasi Kumulatif cumlaude keren, menjadi mahasiswa berprestasi keren, tetapi but it is not everything," tuturnya. Bagi Rizki mendapatkan banyak sertifikat karena mengikuti berbagai seminar itu bagus, tetapi yang paling penting kita harus paham terlebih dahulu seminar apa yang kita ikuti.
Saat berbagi pengalaman hidupnya, Rizki menyampaikan bahwa proses untuk mencapai kesuksesan itu penting. Kita tidak selalu menjadi orang yang disukai oleh orang lain dengan prinsip positif yang kita pegang. Tapi ia yakin, jika tindakan kita setidaknya bisa dipertanggungjawabkan dan mendapatkan berkah, maka hasilnya pasti bagus. "Orang-orang mengatakan kalau saya akan tertinggal dengan pola pikir yang saya miliki. Awalnya itu memang benar tetapi saya membutuhkan waktu sepuluh tahun berproses untuk memutar balikkan semua itu, memang tidak instan," tegasnya.
Bagi Rizki, kita sebagai orang yang terdidik mempunyai tanggungjawab lebih kepada orang-orang yang tidak mendapatkan pendidikan seperti kita. "Hanya 12% masyarakat Indonesia yang bisa merasakan dunia perkuliahan. Bayangkan 88% dari penduduk Indonesia bermimpi untuk mendapatkan posisi seperti mahasiswa saat ini," jelasnya.
Rizki berpesan bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Baginya kita tidak perlu sampai menjadi orang tertentu untuk bisa memulai sesuatu. Tapi yang paling penting, mulailah dengan sesuatu yang terukur. Kita boleh mempunyai idealisme, tetapi jangan sampai idealisme kita hanya bersifat angan-angan semata, yang terdengarannya indah tapi tidak bisa dimanfaatkan. "Kita harus mempunyai prioritas dan mulailah dengan mimpi yang bertanggungjawab," tuturnya.
Reporter : Gezal Sabri*
Editor : Alfendri*
Komentar (0)