Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar, M.Sc., Ph.D. memberikan kuliah umum di Gelanggang Olahraga Universitas Negeri Padang, Kamis (20/10). Mengusung tema "Meningkatkan Daya Saing Bangsa di Bidang Energi", Arcandra menyampaikan data dan fakta tentang kondisi energi Indonesia saat ini serta hal-hal yang mempengaruhi daya saing bangsa di bidang energi.
Arcandra memaparkan bahwa eksplorasi minyak dan gas bumi mengalami penurunan dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Eksplorasi adalah kegiatan yang bertujuan memperoleh informasi mengenai kondisi geologi untuk menemukan dan memperoleh perkiraan cadangan minyak dan gas bumi di wilayah kerja yang ditentukan.
Ia mengungkapkan bahwa faktor yang mempengaruhi penurunan jumlah eksplorasi sekaligus daya saing di bidang energi ini adalah adanya aturan, yakni Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2010 yang mewajibkan investor untuk membayar pajak terkait dengan kegiatan eksplorasi yang dilakukan. Sementara, pada tahap eksplorasi ini, investor belum tentu mendapatkan hasil, sedangkan biaya yang harus dikeluarkan sangat mahal karena tingkat kesulitannya tinggi dan harus menggunakan teknologi mutakhir. "Peraturan pemerintah inilah yang akan kita revisi," ujarnya.
Faktor selanjutnya yang mempengaruhi daya saing menurut Arcandra adalah perizinan bisnis di Indonesia yang membutuhkan proses yang lama. Hal ini menyebabkan investor harus menunggu berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan izin.
Strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya saing bangsa di bidang energi adalah membangun kemandirian bangsa. Ada beberapa hal yang dibutuhkan untuk membangun kemandirian bangsa tersebut, yaitu menjamin sumber daya alam dikelola dengan memaksimalkan kebermanfaatannya untuk kemakmuran rakyat Indonesia, kesepahaman kedaulatan energi, dan menjamin investasi berjalan sesuai dengan koridor hukum dan undang-undang.
Lebih lanjut, Arcandra memaparkan bahwa Indonesia tidak memiliki kekayaan minyak sebanyak yang kita bayangkan. Potensi bahan bakar dari fosil semakin berkurang. Untuk itu, perlu dicari cadangan minyak dan energi alternatif agar Indonesia tidak kekurangan minyak.
Mengingat kondisi tersebut, kata Arcandra, energi terbarukan atau renewable energy adalah sebuah keharusan. Dunia terutama Indonesia tidak memiliki pilihan sehingga harus mencari energi alternatif yang dinamakan energi terbarukan. Di negara maju, sudah ada negara yang 30% energi primer berasal dari energi terbarukan.
Untuk di Indonesia sendiri, sambung Arcandra, potensi energi terbarukan cukup banyak, tapi masih perlu dilakukan review untuk melihat energi mana yang lebih efisien. Salah satu keunikan yang dimiliki Indonesia dan paling berpotensi untuk digunakan adalah geotermal. "Ini salah satu renewable energy yang perlu kita dorong," tutupnya.
Reporter: Fitri Aziza
Editor: Arrasyd*
Komentar (0)