Menanggapi tidak bolehnya mahasiswa membaca skripsi di Jurusan Bahasa Inggris, Kepala Perpustakaan Jurusan Bahasa Inggris, Drs. Januarisdi, MLIS, mengatakan kebijakan pihak jurusan bahasa inggris tidak memperbolehkan mahasiswa membaca skripsi ini, diambil dengan alasan semakin banyaknya plagiat dan tingkat membaca mahasiswa yang semakin rendah. Pada awalnya mahasiswa memang akan merasakan kesulitan, tetapi secara tidak langsung ini adalah upaya dalam peningkatan kualitas penulisan skripsi. Lebih lanjut ia menjelaskan, kebijakan ini sebenarnya sudah lama ingin diterapkan, tapi terkendala oleh buku dan jurnal yang belum lengkap. Pada tahun ini pihak jurusan telah melengkapi seluruh jurnal dan buku yang dibutuhkan dalam pembuatan skripsi. "Jadi, sekarang mahasiswa tidak akan kesulitan lagi," jelasnya, Jumat (29/7).
Menanggapi hal ini, dosen IIPK, Drs. Ardoni Yonas, M. Si., mengatakan tidak ada peraturan yang melarang mahasiswa untuk melihat skripsi. "Jangankan untuk melihat, untuk menjiplak saja tidak apa-apa asalkan minta izin terlebih dahulu kepada pemiliknya dan juga diperbolehkan oleh pembimbing," ujarnya, Senin (15/8). Ia juga mengatakan dengan tidak membolehkan mahasiswa melihat skripsi belum tentu menjamin peningkatan dalam penulisan skripsi, karena mahasiswa bisa saja melihat skripsi yang ada di pustaka pusat. Lebih lanjut ia menjelaskan, salah satu tujuan pembuatan skripsi untuk dijadikan referensi. Bila tidak ingin terjadi plagiat, kita bisa mengontrolnya dengan media elektronik. Dengan cara memindahkan data mentah skripsi ke dalam bentuk data elekronik (PDF). Pemindahan tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan mesin. Mesin tersebut telah lama ada, tapi sampai sekarang masih disimpan di perpustakaan pusat. "Alangkah baiknya kalau kita pergunakan mesin itu kembali," tutupnya. Ninit, Zolla*
Komentar (0)