Sebanyak 43 hasil karya seni rupa Sumatra Barat dipamerkan dalam acara pameran seni rupa Matrilini #1 yang diadakan di Galeri Taman Budaya Padang pada 20-27 Agustus 2016. Dengan mengangkat subtema Motherland (tanah ibu).
Pameran seni rupa Matrilini #1 ini diselenggarakan untuk memberi identitas seni rupa Sumatra Barat. Diangkat dari sepenggal kata yang bisa mewakili Kebudayaan Minang Kabau yaitu matrilinier yang mengenal hubungan keturunan melalui garis kerabat wanita. "Yang sudah menjadi ciri khas masyarakat kita," ujar Iswandi, selaku kurator acara, Sabtu (20/8).
Iswandi menyebutkan untuk menjembatani seluruh generasi, maka dipilihlah subtema Motherland, karena memiliki Pendekatan secara kultur dengan masyarakat Minang yang disebut ranah bundo (ranah ibu). "Yang mana kita coba menghimpun karya-karya dari Minang kabau, lintas generasi. Karya-karya yang tumbuh dari inspirasi alam Minangkabau itu sendiri," ujarnya.
Lebih lanjut Iswandi mengatakan bahwa lebih kurang enam generasi yang dipadukan dalam pameran kali ini. Dengan generasi termuda berasal dari seniman mahasiswa Universitas Negeri Padang dan Institut Seni Indonesia Padang Panjang.
Adapun Tujuan dari acara ini yaitu, untuk lebih memperkenalkan kembali sejarah yang berkesinambungan kepada generasi muda, mendorong seniman muda untuk memperoleh inspirasi untuk bekarya dan menulis buku-buku seni rupa, serta memamerkan bukti bahwa Sumatra Barat memiliki identitas kultur yang kuat di dunia seni rupa di Indonesia.
Untuk ke depannya, Iswandi berharap akan ada Matrilini kedua dan seterusnya, dengan sentuhan tema yang berbeda. "Karena iklim itu terciptanya oleh adanya event-event seperti ini," tegasnya, saat ditemui di ruang pameran seni rupa Taman Budaya Padang, Sabtu malam (20/8).
Dalam sambutannya pada pembukaan pameran seni rupa, Sabtu (20/8) lalu, Eyviet Naz Mar asisten Walikota bidang Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraaan Kota Padang, menyampaikan bahwa, pemeran seni rupa ini merupakan pameran suatu karya khas dan istimewa dari orang-orang yang memiliki jiwa imajinasi dan kreasi yang tidak dimiliki oleh orang lain. "Bermodalkan cat warna mereka menghasilkan karya yang indah," ucapnya.
Lebih lanjut Eyviet juga mengajak para seniman untuk mensyukuri rahmad dari Tuhan yang dimiliki, dengan cara selalu menghadirkan karya yang bisa dinikmati dan dirasakan oleh para pecinta seni. "Karena seni akan bisa dihargai oleh orang yang menikmati seni itu sendiri," ujarnya. Selain itu, diharapkan bagi seniman Sumatra Barat yang berkiprah di luar kota ke depannya hasil karya mereka juga dapat ditampilkan. "Supaya kita lebih mengenal bahwa seniman Minang juga banyak berkiprah di luar sana," tutupnya.
Reporter: Gezal Sabri*
Editor: Ranti Maretna Huri
Komentar (0)