Dalam rangka mempromosikan buku kesembilannya, Sebuah Usaha Melupakan, penulis Boy Candra melakukan tur ke empat kota di Indonesia, yaitu Jakarta, Surabaya, Malang, dan Makassar. Tur tersebut dilaksanakan dari 26 Agustus hingga 3 September.
"Ini merupakan program penerbit. Konsepnya meet and great. Paling kita ngobrolin seputar tulis-menulis, tanya-jawab, diskusi, terus kesempatan terakhirnya tanda tangan. Kayak gitu aja sih," ujar Boy saat berkunjung ke Sekretariat Surat Kabar Kampus Ganto Universitas Negeri Padang, Senin (15/8).
Buku yang bergenre nonfiksi ini telah beredar di toko buku Gramedia seluruh Indonesia akhir Juni lalu. Tiap tulisan terdiri atas empat paragraf, lebih pendek dari cerita pendek, dan lebih panjang dari flash fiction. Ini merupakan teknik penlisan yang ditemukan oleh Boy sendiri. "Sekarang, sudah cetakan kedua," imbuhnya.
Boy merupakan penulis best seller. Di antara bukunya yang best seller itu adalah Catatan Pendek untuk Cinta yang Panjang sudah cetakan keenam belas, dan buku Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai sudah cetakan ketiga belas. Rata-rata, dia mendapatkan sepuluh persen dari harga buku.
"Buku saya lakunya itu, ada ya sekitar sepuluh ribu ekslempar lebih per enam bulannya. Jadi, tiap bulan cetak terus. Penghasilannya berapa ya? Saya tidak pernah hitung soalnya. Siklusnya kan per enam bulan. Ngak ada angka pasti," jelasnya saat ditanya penghasilannya sebagai penulis.
Selain itu, Boy juga merupakan penulis produktif. Buktinya, pada Agustus ini, dia telah menerbitkan buku kesepuluhnya, Pada Senja yang Membawamu Pergi. Buku ini merupakan novel ketiganya setelah Origami Hati (2013) dan Sepasang Kekasih yang Belum Bertemu (2015).
Meski dikenal sebagai penulis produktif dan best seller, sulung dari dua bersaudara ini mengungkapkan bahwa dia tidak terlalu nyaman dengan sebutan penggemar bagi penikmat karyanya.
"Saya lebih suka dengan istilah teman atau pembaca. Karena saya merasa tidak punya penggemar soalnya. Kalau saya ngerasa punya penggemar nanti saya takut jalan ke sini kan. Saya jalan kaki, saya sering naik ojek. Hehehe," kelakarnya.
Reporter: Fakhruddin Arrazzi
Editor: Ermiati Harahap
Komentar (0)