Jurnalisme sastrawi merupakan sentuhan baru jurnalis dalam menghasilkan tulisan yang mengalir dan enak dibaca. Hal ini dikatakan oleh Imam Shofwan, Ketua Yayasan Majalah Pantau saat Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PKJTLN) yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Teropong Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara, Kamis (12/5).
Pada pelatihan yang diselenggarakan di meeting room The Z Suites Hotel, Medan ini, ia juga mengatakan bahwa dalam bertutur, jurnalisme sastrawi menggunakan adegan demi adegan, pencatatan dialog secara utuh, menggunakan sudut pandang orang ketiga, dan penuh dengan detail. "Tidak puas hanya dengan apa yang terjadi, namun juga kenapa hal itu terjadi," tuturnya, Kamis (12/5).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam menghasilkan satu karya jurnalisme sastrawi membutuhkan waktu pengerjaan hingga bertahun-tahun. Hal itu disebabkan karena jurnalisme sastrawi membutuhkan riset dan wawancara yang banyak. "Jurnalisme sastrawi menangkap satu peristiwa dari berbagai sudut pandang dan wawancara dengan banyak orang," tutupnya.
Penulis: Ermiati Harahap
Editor: Neki Sutria
Komentar (0)