Kepala Seksi (Kasi) Tenaga Teknis (Teknis) Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas), Syamdani, M.Pd., mengatakan bahwa salah satu permasalahan yang muncul ketika ia baru menduduki jabatannya adalah mahalnya uang les membaca bagi siswa kelas satu sekolah dasar (SD), yakni sebesar 80 ribu rupiah.
"Kasihan orang tua yang tidak berpunya yang kadang-kadang tidak sempat mendidik anaknya di rumah, dan terkadang mereka sendiri tidak pula pandai membaca. Kapan rantai ini akan kita putus," ujarnya pada acara perpisahan wisudawan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) periode 105 di Ballroom Hotel Basko Padang, Minggu (20/3).
Lebih lanjut, Syamdani mengatakan bahwa bila masih ada sekolah yang mengadakan les membaca untuk siswa kelas satu SD, berarti gurunya gagal dalam mengajar. Sebab, siswa di kelas satu SD hanya belajar tentang membaca, menulis, dan menghitung. "Jika siswa harus les membaca, terus kerja guru apa?" tanya Syamdani.
Selain itu, ia juga menerima aduan bahwa guru menggunakan bahasa penghuni kebun binatang dalam proses pembelajaran, yang tidak seharusnya digunakan dalam dunia pendidikan. "Kepada wisudawan hal ini merupakan sebuah peringatan bagaimana agar anda menjadi guru yang hebat dan patut untuk dicontoh dan diteladani," ujarnya.
Guru yang hebat, kata Syamdani tidak pernah kehabisan akal dalam mendidik siswanya agar menjadi orang yang sukses. Bila ada anak didik yang kurang ajar itu biasa. Karena itu pula guru mengajar siswa, bukan menghajarnya. Namun pada kenyataannya, kata Syamdani anak didik kurang ajar, guru malah menghajarnya. "Itu adalah kesalahan besar dalam pendidikan," tegasnya.
Menurutnya, tidak selamanya pendidikan dilakukan dengan kekerasan. Ia berpesan kepada wisudawan agar meningkatkan kreatifitas dan inovasi sehingga mampu mengharumkan almamater. "Anda sebagai duta, apa yang ditampilkan di lapangan, itu lah yang akan dinilai orang. Oleh karenanya, hati-hati lah dalam bersikap dan bertindak," tutupnya.
Penulis: Ermiati Harahap
Editor: Fitri Aziza
Komentar (0)