Terinspirasi mengangkat kualitas perempuan Minang, Vera Yuana pun menulis sebuah novel berjudul Senandung Sabai (Cinta dan Luka). Ia melihat, dalam konteksnya sekarang, perempuan Minang sudah banyak mengalami pergeseran dari segi moral dan etika. Hal ini bisa dilihat dari hilangnya budaya malu perempuan Minang ketika berhadapan dengan lawan jenis.
"Saya mengangkat seorang perempuan Minang yang tetap bertahan dalam kearifan lokal di tengah metropolitan melanda negeri ini," ujarnya pada Talkshow Kepenulisan dan Bedah Novel karyanya di Gedung Pascasarjana Universitas Negeri Padang, Minggu (14/2).
Sebagai perempuan Minangkabau yang hidup di perantauan tepatnya di Bekasi, Vera ingin tetap konsisten dengan budaya Minangkabau. "Saya ingin budaya Minangkabau dipahami oleh orang dari budaya lain," ujarnya.
Vera mengatakan, ia menyelesaikan novel ini selama enam bulan. Meskipun sempat stagnan tidak menulis selama sebulan karena terhenti di dua episode terakhir. "Saya merasa terlibat secara emosional di situ," jelasnya.
Lebih lanjut, Vera mengatakan bahwa ia melakukan riset dan jajak pendapat dengan beberapa orang. Mereka memberikan tanggapan. Namun, kata Vera sebagai penulis, ia harus menyelesaikan masalah tersebut berdasarkan intuisinya. "Saya tidak ingin membuat cerita yang berakhir dengan dongeng, saya ingin mengajak pembaca bahwa hidup adalah realita," ujarnya.
Pada mulanya, kata Vera, ia sempat ditipu oleh sebuah penerbitan di Jakarta yang memberikannya ISBN bodong. Namun, ia tidak mau memprosesnya ke pihak yang berwajib. "Saya pindah penerbit. Saya kenal dengan Muhamammad Subhan di Forum Aktif Menulis (FAM). Ia mau membantu saya," ujarnya.
Ketika ditanya tentang karya selanjutnya, ia menjawab,temanya sudah dapat dan sudah ada dalam pikiran saya. "Saya ingin tetap konsisten dengan budaya Minang," ujarnya.
Penulis: Fakhruddin Arrazzi
Editor: Ermiati Harahap
Komentar (0)