Ada empat hal yang perlu diperhatikan penulis pemula agar dapat menulis esai yang baik. Empat hal tersebut, yaitu menulis hal yang unik, memperbarui cara pandang, memiliki pengetahuan yang dalam tentang apa yang akan ditulis, dan menulis sesuai bidang yang disenangi. Demikian trik yang disampaikan oleh Gus tf Sakai pada pelatihan esai tingkat remaja yang diadakan oleh Balai Bahasa Sumatra Barat di PDIKM Padangpanjang, Senin–Sabtu (14–19/12).
Pertama, menulis hal yang unik. Maksudnya apa yang ditulis itu tidak umum; tidak klise. Harus ada kebaruan di dalam esai yang ditulis. Kalau klise, pembaca tidak akan membaca esai tersebut.
Selanjutnya, memperbarui cara pandang. Banyak hal yang bisa dijadikan ide untuk menulis esai. Semuanya tergantung sudut pandang seseorang dalam memandang suatu hal. Misalnya tentang rokok. Ada yang memandang rokok itu merugikan, maka lahirlah sebuah esai tentang dampak buruk rokok. Ada yang memandang rokok menguntungkan, maka lahirlah sebuah esai tentang manfaat rokok. Begitu seterusnya dengan cara pandang yang berbeda, akan lahir esai yang berbeda-beda.
"Satu benda saja, bisa dijadikan seratus esai. Bahkan seribu esai," ujar laki-laki paruh baya yang akrab dipanggil Om Gus ini, Senin (14/12).
Hal selanjutnya yang perlu diperhatikan, yakni memiliki pengetahuan yang dalam tentang ide esai yang akan ditulis. Seorang yang baik harus menguasai ide yang akan ditulisnya. Kalau tidak, esai yang ditulis akan dangkal sehingga tidak akan dibaca; ditinggalkan pembaca. Sebab menurut Om Gus, jika yang dibahas dalam esai tidak mendalam dan hanya membahas masalah secara umum, pembaca bisa mendapatkan informasi tersebut secara dalam dari sumber yang lain.
Trik terakhir dari Om Gus, yakni menulis sesuai bidang yang disenangi. Menulis tentang apa yang diminati akan lebih mudah karena penulis setidaknya sudah punya dasar terkait ide tersebut. Selain itu, orang pun akan lebih yakin dengan tulisan tersebut karena ditulis oleh orang yang memang kompeten di bidangnya. Misalnya, seorang pakar pendidikan menulis esai tentang dunia pendidikan, budayawan menulis tentang budaya, atau ustaz menulis tentang agama.
"Kalau Gus tf Sakai menulis esai tentang agama, barangkali redaktur koran akan berpikir berulang kali untuk menerbitkannya," ujar sastrawan asal Payakumbuh itu.
Selain empat hal tersebut, hal yang perlu juga dikuasai penulis adalah mengetahui sifat-sifat teks. Secara umum ada dua sifat teks, yaitu diskursif dan figuratif. Teks diskursif adalah teks yang bersifat terus terang, mudah dipahami maksudnya–apa yang tertulis di dalam teks dipahami sama oleh pembaca lainnya. Contoh karya dari teks diskursif adalah laporan penelitian. Sementara itu, teks figuratif adalah teks yang bersifat melukiskan atau menyimbolkan. Apa yang dipahami pembaca dari teks tersebut bisa dipahami berbeda oleh pembaca lainnya. Contoh karya dari teks figuratif adalah puisi. Berdasarkan kedua sifat kedua teks tersebut, esai berada di tengah-tengahnya; di antara diskursif dan figuratif
Komentar (0)