Bertemakan Learning Now Leader Tomorrow, Unit Kegiatan Kerohanian (UKK) Universitas Negeri Padang mengadakan seminar pendidikan nasional, Minggu (6/12). Acara yang berlangsung di Aula Fakultas Ilmu Pendidikan tersebut mendatangkan Asep Sapa’at, Pemerhati Karakter Guru di Character buildingIndonesia sebagai pemateri. Asep yang kala itu memakai baju batik bewarna merah cerah dan berkacamata, mencoba memaparkan tentang "Siapa guru karakter terbaik?".
Selama berjalannya materi, Asep berulang kali mengatakan bahwa ibunya adalah guru karakter terbaik baginya. Ibunya selalu mengajarkan untuk hidup sederhana dan jujur. Lebih lanjut, Ia menyatakan bahwa dasar rusaknya akhlak anak sekolah dasar dan remaja adalah kasih sayang yang berlebihan dari orang tua. "Dan lebih parah dari itu ialah didasari gengsi dari si orang tua," tambahnya
Menyinggung wajah pendidikan Indonesia, Asep mengatakan bahwa simpul terkuat pendidikan Indonesia terletak pada simpul terlemahnya, yaitu guru. Guru Indonesia menerima gaji lebih kecil dibanding guru di negara Malaysia, Thailand, dan Singapura. Hal ini menyebabkan kurang maksimalnya kinerja guru. Indonesia dinilai telah mempertaruhkan masa depan dengan menyepelekan dan menyia-nyiakan bahkan menzalimi guru. Selain itu guru Indonesia pun dinilai tak paham antara mengajar dan mendidik, dan peran fungsinya sebagai guru.
Ia berpesan agar menjadi guru jangan hanya sekadar untuk mencari pekerjaan, tapi jadikanlah sebagai aktualitas diri dan membangun peradaban. Guru harus menjalin silaturrahmi, membangun jaringan, dan menjaga nama baik serta selalu memelihara akhlaknya.
Seorang peserta seminar, Warren Prisila Putra, mengatakan bahwa Asep berkompeten dalam menyajikan materi. Ia menekankan seorang guru yang baik adalah seorang pendidik yang memiliki akhlak bagus. Karena, seorang pendidik perlu akhlak yang indah untuk dijadikan contoh. "Saya sebagai calon guru termotivasi menjadi pendidik profesional," ungkapnya, Minggu (6/12).
Penulis : Abdul Hamid
Editor: Fitri Aziza
Komentar (0)