Rhino Ariefiansyah, seorang Penyedia Produksi Eagle Award Documentary Competition menjadi pemateri pada Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PKJTLN) yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Genta Andalas, Universitas Andalas. Pelatihan ini dilaksanakan di Mess Unand selama 1 minggu (23 - 29/11).
Dalam pemaparan materinya tentang film dokumenter, Rhino menyampaikan bahwa selain mementingkan esensi dan maksud pembuatan film dokumenter, si pembuat film harus mementingkan aspek etika. "Kita harus memperhatikan etika dan subjek yang ingin kita dokumentasikan," ungkapnya. Aspek etika yang dimaksud menyangkut bagaimana menghormati keadaan yang apa adanya tanpa ada manipulasi keadaan saat mengambil gambar di lapangan.
Selain menjelaskan materi dan etika dalam membuat film dokumenter, Rhino juga menayangkan beberapa pemenang karya dokumenter dari Eagle Award. Salah satu karya itu datang dari Arfan, Pemenang Eagle Award 2006 dengan judul "Suster Apung". Film dokumenter tersebut berisi tentang perjuangan seorang suster merawat pasien di pulau-pulau kecil yang terpencil di Makassar. Melawan ganasnya ombak, peralatan medis yang minim, dan berbagai macam kendala yang lainnya.
Dalam film dokumenter tersebut, suster sebagai tenaga medis perawat, malah berperan sebagai tenaga medis yang mengobati, layaknya bidan dan dokter. Karena perjalanan laut yang memakan waktu yang lama dan ketiadaan transportasi laut yang memadai, membuat pasien tidak bisa dirujuk ke rumah sakit. Maka, "Suster Apung" inilah yang mengobati pasien di pulau-pulau kecil itu selama bertahun-tahun.
Penulis : Putri Rahmi
Editor : Dwi Suharadita*
Komentar (0)