10 November merupakan hari bersejarah bagi pemuda Islam Indonesia. Pada hari itu, pemuda Islam Indonesia berpikir cara mempertahankan negaranya. Berbeda dengan sekarang, pemuda hanya tahu happy saja. Hal itu disampaikan Ustad Syaidani Tasra, S.Sos.I pada acara Tarbiyah Ruhaniyah Melawan Lupa: Mengungkap Tabir di balik 10 November, 70 Tahun Silam yang diselenggarakan Forum Studi Islam Alqalam Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Padang (UNP) di Ruang Standar Fisika FMIPA UNP, Kamis (10/11).
Tanggal 10 November merupakan kejadian besar dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. "Beruntunglah pemuda yang hidup pada zaman itu berjumpa pada hari itu" ujar Ustad Syaidani. Pada hari itu, pemuda Islam berperan penting di medan pertempuran Surabaya. Pemuda Islam berjihad. Walaupun meninggal, mereka hidup di sisi Allah. "Mereka adalah syahid-syahid dari Indonesia," imbuh Ustad Syaidani.
Ia juga menjelaskan, pemuda Islam hari ini bisa melanjutkan perjuangan dengan membuat Indonesia lebih maju. Pemuda Islam yang berpikir tentang bangsanya adalah pemuda yang paham dengan hakikat Islam sebenarnya. Tambahnya pula, mempertahankan negara sama dengan mempertahankan harga diri sebagai umat muslim. "Sebab, Islam menganjurkan kita untuk mencintai tanah air," ujarnya.
Penulis: Fakhruddin Arrazzi*
Editor : Dwi Suharadita*
Komentar (0)