Dalam rangkaian acara Festival Integritas Mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Padang (UNP) adakan bedah novel Revolusi dari Secangkir Kopi karya Didik Fotunadi S.T., di Aula Sekolah Dasar Pembangunan Laboratorium UNP, Sabtu (24/10). Bedah novel dengan tema Membentuk Pribadi Integritas dalam Membangun Generasi Indonesia Emas ini dihadiri oleh 220 peserta.
Presiden Mahasiswa, Galant Victory dalam sambutannya menerangkan bahwa acara bedah buku dilatarbelakangi menurunnya mental aktivis di kalangan mahasiswa. "Saat ini, mayoritas mahasiswa bersikap apatis dan tidak peduli dengan masalah yang ada," ungkapnya.
Acara yang dimoderatori Ardiles S.E., mengupas garis besar isi novel karya Didik tersebut. Dalam novel ini, Didik memaparkan alur kaderisasi mahasiswa selama di kampus untuk mampu berevolusi. Dirinya juga menyebutkan bahwa filosofi secangkir kopi yang ia angkatkan dalam judul itu adalah menyoal waktu. "Kopi enak diminum saat hangat, itu kira-kira 15 menit," ungkapnya. Lebih lanjut Didik menjelaskan pula bahwa revolusi tidak harus dihadirkan melalui seminar-seminar besar. "Melalui obrolan-obrolan warung kopi ringan pun kita mampu berevolusi," terangnya.
Dalam novelnya, Didik mengaku lebih banyak menyoal tentang kaderisasi mahasiswa demi mewujudkan paradigma berpikir mahasiswa yang lebih baik. "Jika ada seorang mahasiswa yang tahu bersih saja, artinya ia sudah tua, bukan muda lagi," jelasnya. Hal ini, ia perjelas karena saat mahasiswa tidak peduli dengan lingkungan, dengan masalah di sekitar, hal itu sama halnya dengan berjiwa tua.
"Jangan pernah pandang kampus sebagai tempat untuk menimba ilmu saja, kampus adalah tempat sekolah orang-orang pemimpin," tutupnya.
Penulis : Fitri Wijaya*
Komentar (0)