Akhir semester Juli-Desember 2014, seluruh mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) kembali mengisi angket penilaian sebelum mengakses Lembar Hasil Studi (LHS). Pengisian angket dengan berbagai macam indikator penilaian ini mendapat tanggapan beragam dari mahasiswa dan dosen.
Seorang mahasiswa Jurusan Kesejahteraan Keluarga (KK), Wilda Gustia, kurang setuju dengan adanya angket penilaian ini. Ia pun memilih tidak mengisi angket pada semester Juli-Desember 2014 lalu. "Tidak ada perubahan pada sistem pembelajaran setelah mengisi angket itu," ungkapnya, Kamis (12/2).
Mahasiswa lain, Annisa Iman Sari, dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris TM 2012, mengaku cukup kerepotan dengan pengisian angket penilaian ini. Apalagi dengan adanya penambahan indikator penilaian. Namun, menurutnya, angket bisa menjadi salah satu penilaian yang bagus karena memberikan saran serta kritikan kepada dosen dan layanan mahasiswa, bila mahasiswa memang mengisi apa adanya. "Kebanyakan mahasiswa mengisinya sembarangan," kata Annisa, Rabu (11/2).
Sementara itu, dosen Jurusan Bahasa Inggris, Fitrawati, S.S,. M.Pd,. menyambut positif pengisian angket ini. "Selama ini dosen merasa sudah bagus kinerjanya, padahal kenyatannya tidak," ungkapnya, Senin (16/2). Hal yang sama juga diutarakan oleh dosen jurusan yang sama, Havid Ardi, S.Pd, M.Hum.. "Hasil angket ini bisa jadi masukan bagi seluruh dosen atau pimpinan untuk perbaikan institusi dari berbagai hal," tambahnya, Senin (16/2).
Menanggapi hal tersebut, Ketua Badan Penjamin Mutu Internal (BPMI), Dr. Bafirman, M.Kes., AIFO., mengatakan pengisian angket ini memang bertujuan meninjau Proses Belajar Mengajar (PBM) yang masih memiliki beberapa keterbatasan agar dapat berjalan lebih optimal. Selain itu, penambahan indikator dilakukan karena berdasarkan statistik yang diolah BPMI, hasil angket pada Juli-Desember 2013 menunjukkan hasil yang monoton. "Rata-rata hasil yang diisi mahasiswa berkisar pada indikator 4 dan 5 (baik dan sangat baik)," paparnya, Jumat (20/2). Maka dari itu Bafirman memutuskan untuk memperluas rincian indikator penilaian dari lima menjadi tujuh karena kecenderungan yang diisi mahasiswa tersebut.
Bafirman juga menambah aspek penilaian seperti aspek tangibles (sarana pendidikan, alat perkuliahan, media pengajaran, prasarana pendidikan), aspek reliability (kehandalan dosen, staf akademik), aspek responsiveness (sikap tanggap), aspek assurance (perlakuan pada mahasiswa), aspek emphaty (pemahaman terhadap kepentingan mahasiswa), dan aspek information system (sistem informasi kemahasiswaan). Tak hanya itu, jumlah mata kuliah yang harus diisi pun dikurangi untuk mempermudah mahasiswa mengisi angket penilaian.
Lebih lanjut, Bafirman mengatakan pengisian angket ini masih akan diadakan oleh BPMI pada semester mendatang. Bafirman pun mengimbau agar mahasiswa mengisi angket sesuai dengan kondisi yang ada. "Isilah angket dengan jujur dan apa adanya," tutupnya. Sabrina
Komentar (0)