Selain itu ada beberapa kegiatan lain yang biasa dilakukan Rumah Puisi seperti pelatihan guru Bahasa dan Sastra Indonesia, kegiatan membaca dan berlatih menulis siswa, kegiatan apresiasi sastra Indonesia dan Minangkabau, akses buku-buku perpustakaan, mengundang sastrawan daerah lain untuk bermukim selama 15-30 hari untuk berinteraksi dengan guru dan siswa, dan juga antar antar sastrawan
Perharinya ada sekitar 10-15 orang yang berkunjung, namun pada akhir pekan jumlahnya akan lebih banyak. Bagi para pengunjung tidaklah harus merogoh saku atau membuat kartu anggota untuk masuk ke Rumah Puisi. Mereka hanya cukup dengan melapor kepada pengelola. "Para pengujung bebas memilih sendiri mana buku yang ingin mereka baca, tapi tidak boleh dibawa pulang, hanya dibaca disini atau bisa juga difotokopi," tutur Subhan.
Salah satu pengunjung ketika itu, Meiriza Paramita mengaku kalau kata-kata mutiara yang dipajang di halaman dan dinding Rumah Puisi yang merupakan karya dari seluruh penulis dunia membuatnya termotivasi untuk terus menulis dan menggemari sastra. Mita begitu ia akrab dipangil sudah empat kali berkunjung, ia suka mencari buku-buku sasrta luar seperti karya Leo Tolstoy. Ia juga pernah membaca dokumentasi tsunami Aceh. "Walaupun namanya Rumah Puisi, buku yang disediakan tak hanya buku puisi," ungkapnya. Ia berharap semoga semakin bertambah lengkap koleksi buku di Rumah Puisi.
Beda lagi dengan Febby Lestia Dwidaya, siswa MTNS Padang Panjang yang baru duduk di bangku kelas dua ini. Ia ingin sekali membuat sebuah novel. Sore itu ia berkunjung bersama 30 orang temannya. Febby mengatakan kalau ia sangat mengidolakan karya-karya Taufiq Ismail. Menurut Febby, gurunya di sekolah sering membacakan puisi-puisi Taufiq Ismail. Febby yang sekarang tengah belajar menggarap novel berharap banyak mendapat ilmu dari Rumah Puisi. "Suasananya nyaman, serta koleksi buku pun banyak," ujar Febby. (Diana Besni)
Komentar (0)